27
Feb
08

Pengembangan Profesionalisme Kepala Sekolah

Sejak tahun 1990-an saya terlibat dan menaruh minat khusus dalam pengembangan profesionalisme  kepala sekolah. Hal ini khususnya karena keterlibatan saya dalam proses pengembangan system rekrutmen kepala sekolah, khususnya kepala SMK. Di mana system rekrutmen tersebut selalu  dikaitkan dengan kebijakan pendidikan dan implementasi kurikulum. Saya menjadi PNS di PPPG Teknologi Bandung (sekarang P4TK BMTI) sejak tahun 1990, akan tetapi tahun 1994 sampai dengan 2000-an saya menjabat beberapa posisi yang berkaitan dengan rekrutmen kepala sekolah yang dikoordinasikan Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan.  Kepala sekolah direkrut dari guru, artinya kalau guru tidak melakukan pengembangan diri, maka yang bersangkutan tidak memiliki pengetahuan untuk mengimplementasikan kebijakan yang  dibuat oleh pemerintah (pusat) di sekolah.  Keterlibatan saya dalam pengembangan system rekrutmen kepala sekolah tersebut membuat saya sering mewawancarai guru yang melamar menjadi kepala sekolah. Dari wawancara tersebut saya menemukan, bahwa umumnya guru kurang menguasai masalah kebijakan yang dibuat oleh pemerintah pusat tentang implementasi kurikulum dan berbagai persoalan administrasi sekolah.Saya dapat menyimpulkan umumnya wawasan guru di Indonesia tidak begitu luas. Mereka hanya terfokus pada substansi yang mereka ajarkan di kelas. Tentu sedikit berbeda dengan guru yang telah beberapa kali mengikuti pelatihan di tingkat Nasional. Berdasarkan hal ini saya hendak fokus terhadap masalah bagaimana pengembangan profesionalisme kepala sekolah terutama yang berkaitan dengan  pengajaran guru di kelas. Selama ini saya dekat dengan kepala sekolah dan dari kedekatan tersebut saya menyadari jika tanpa dukungan kepala sekolah tersebut terhadap pengembangan profesionalisme guru tidak akan berhasil. Tahun 2004, saya berkecimpung dalam program yang dibuat oleh pemerintah pusat yaitu memitrakan kepala sekolah dari daerah yang sudah maju (umumnya sekolah yang ada di pulau Jawa) dengan kepala sekolah dari daerah tertinggal atau sekolah yang belum maju yang umumnya ada di Kawasan Timur Indonesia (KTI) ketika itu saya membaca makalah yang dibuat Dawking Green (Dawkins 1987) yang menganjurkan perubahan signifikan dalam pendidikan. Perubahan tersebut tergambar  pada pendidikan dasar dan unsur-unsur tertentu pada sekolah pemerintah.  Dalam kenyataan  pada akhir tahun 1980-an dan awal tahun 1990-an  yang ditandai dengan penekanan perkembangan baru dalam perbaikan  sektor publik, yang sekarang disebut “Manajemen Publik Baru”/ New Public Management (NPM). Inti dari NPM ( Ferlie, Ashburner and Pettigrew, 1996) didokumentasikan dengan baik, yang meliputi: 

·         Pengurangan peran pemerintah dalam pelayanan

·         Desentralisasi sektor public

·         Deregulasi pasar tenaga kerja

·         Memperkuat daya saing dan akuntabilitas pada sektor publik

·         Standar dan pengukuran kinerja, target dan indikator keberhasilan

·         Penekanan pada output, penekanan pada hasil bukan pada proses

·         Bentuk kerjasama yang baru dari pemerintah

·         Perubahan pendanaan dari pemerintah ke  sector swasta (agenda privatisasi) dan

·         Pengurangan dalam self-regulasi kekuasaan profesi. 

Pengaruh NPM di sekolah –sekolah di Australia baru terlihat sekitar tahun 1988.  Di Inggris, NPM terlihat pengaruhnya dalam reformasi  kegiatan pendidikan tahun 1988 juga, di Selandia baru  ditandai dengan  Picot Reform tahun 1988 hampir sama dengan di Queensland Australia di mana terjadi perubahan ke arah desentralisasi melalui perencanaan sekolah daerah (local) dan penambahan anggaran untuk pengendalian dan akuntabilitas kepala sekolah dan orang tua serta asosiasi masyarakat. Pengaruh NPM sejak tahun 1980-an ditandai dengan restrukturisasi di sekolah, yang meliputi: 

·         Desentralisasi melalui manajemen berbasis sekolah

·         Peningkatan kompetisi antar sekolah

·         Bertambahnya tuntutan untuk akuntabilitas keuangan

·         Peningkatan pengawasan pemerintah  melalui komite sekolah

·         Resentralisasi kurikulum dan pengendalian penilaian

·         Memperluas  wewenang kepala sekolah

·         Peningkatan tuntutan untuk penilaian berbasis outcomes (hasil)

·         Publikasi kinerja sekolah kepada masyarakat luas

·         Penilaian terhadap guru berdasarkan kompetensi dan

·         Memperketat regulasi profesi guru (pendidik). 

Terjadinya iklim restrukturisasi yang diciptakan NPM, pertama sekali terlihat dampaknya adalah pada kepala sekolah, buktinya mereka lebih mempersiapkan diri untuk memimpin dan mengelola  perubahan di sekolah, terjadi peningkatan tuntutan untuk mengimplementasikan perubahan tersebut. Penelitian tersebut  difokuskan pada pengembangan profesionalisme dari guru menjadi kepala sekolah. Tulisan ini difokuskan pada pengembangan profesionalisme kepala sekolah, terutama bentuk-bentuk pengembangan yang mereka dapatkan dan pengembangan apa yang mereka perlukan. Tulisan ini dibagi menjadi lima bagian. Pertama,  membahas secara teoritis, menggambarkan 4 perbedaan orientasi pengembangan profesionalisme kepala sekolah. Kedua,  menggambarkan beberapa (tiga) hasil penelitian  tentang pengembangan profesinalisme di mana penulis terlibat di dalamnhya kurang lebih 10 tahun, apa  yang mereka sebutkan sebagai bentuk pengembangan profesionalisme yang diberikan kepada kepala sekolah. Ini diikuti dengan pengkajian literatur yang lebih luas, tulisan akademis dan praktik yang berkaitan dengan pengembangan profesinalisme kepala sekolah dewasa ini untuk mengidentifikasi di mana titik penekanan dianjurkan. Penekanan tersebut dikaitkan dengan kerangka kerja teoritis serta dihubungkan dengan realitas dan kemungkinannya. Tulisan ini juga disertai dengan beberapa pertanyaan kepada kepala sekolah tentang apa yang telah mereka peroleh dari pengembangan profesionalisme selama ini. 

A.   Kerangka Kerja Teoritis Pengembangan Profesionalisme 

Pengembangan dan perumusan kembali kerangka kerja untuk menganalisis pengembangan profesinalisme dalam pendidikan (Lihat diagram 1) untuk  beberapa waktu (Logan dan Dempster, 1992; Dempster dan Beere, 1996).  Kerangka kerja tersebut didasarkan pada  paradigma teori sosial  yang dikemukakan oleh Burrell dan Morgan (1979). Dalam diagram 1, menggunakan dua interseksi berkelanjutan untuk menemukan empat orientasi pengembangan professional; System Restuturing, System Maintenance,  Professional Sustenance dan Professional Transformation. Kutup kontinum masing-masing diidentifikasi berlawanan posisi, aksis-x menggambarkan fokus orang vs fokus system dalam aktivitas manusia, aksis-y menggambarkan dua pandangan perubahan, reproduksi vs rekonstruksi. 

                                                                                                    

 System Maintenance berorientasi pada  pengembangan profesinalisme yang didasarkan pada, nilai-nilai,  pandangan organisasi terhadap kebutuhan belajar yang perlu dipertahankan saat ini, sebaiknya  menerima prinsip belajar yang minimal menciptakan adanya perubahan. Dari orientasi tersebut dirumuskan harapan dari pekerja tentang pengetahuan dan keterampilan apa yang mereka perlukan agar dapat berperan dengan baik dan ini diterjemahkan ke dalam penyediaan pelatihan untuk mencapai keterampilan dan pengetahuan tersebut. Dengan demikian petugas dalam organisasi tersebut dilengkapi dengan kemampuan yang dibutuhkan untuk menjalankan fungsi organisasi atau lembaganya. Pendekatan ini menekankan pengembangan profesionalisme akan pentingnya didaktik metodik dan besarnya fungsi hubungan personal dengan peserta untuk berpartisipasi. Ketika hal ini dibutuhkan, kepala sekolah perlu mendapatkan pengetahuan dan keterampilan untuk menjalankan tugasnya sehari-hari sebagai pendidik, Jika gagal, biasanya pelayanan dari kepala sekolah tersebut menjadi tidak baik atau pendidik tersebut tidak berfungsi sebagai mana diharapkan. Berdasarkan pendekatan system maintenance  terhadap pengembangan profesinalisme kepala sekolah, sebaiknya; 

·         Berdasarkan kompetensi (substansi dan keterampilan pedagogis)

·         Berkaitan dengan kebijakan pendidikan dan prioritas yang ditetapkan pusat

·         Fokus pada otoritas, tanggung jawab dan akuntabilitas pengajaran di sekolah.

 Kegiatan pengembangan profesinalisme kepala sekolah diarahkan pada “system Maintenance” yang biasanya tergantung pada inisiatif dan dukungan dari system administrasi.   System Restructuring, pengembangan profesionalisme berorientasi pada  penekanan untuk belajar mengenai perubahan system dan biasanya didasarkan pada tuntutan pimpinan organisasi untuk memberdayakan sumber daya manusia untuk mencapai tujuan struktur organisasi yang telah ditetapkan. Penekanan pendekatan ini adalah bagaimana hubungan antara pengembangan system pendidikan, pengembangan sekolah dan pengembangan profesionalisme kepala sekolah (Preston, 1990; Varghese, 2000) yang dikaitkan dengan keuntungan penetapan tujuan yang jelas dan evaluasi produktivitas dikaitkan dengan prioritas (Hopkins, 1992). Dalam dunia pendidikan, pendekatan system restructuring dalam pengembangan profesionalisme menuntut kepala sekolah untuk melakukan efisiensi dan efektivitas dalam mengimplementasikan prioritas  kepentingan pemerintah dan nilai-nilai,  rencana/program dan tujuan pendidikan. Pengembangan profesionalisme kepala sekolah yang berpartisipasi dalam system restructuring sebaiknya; 

·         Bagaimana mengembangkan nilai dan sikap yang konsisten terhadap system pendidikan,

·         Bagaimana membuat perubahan dalam struktur dan fungsi kepala sekolah di sekolah sesuai dengan system yang ditetapkan,

·         Bagaimana  bekerja untuk mencapai perubahan system sesuai dengan anggaran pendidikan yang ditetapkan dan

·         Bagaimana mencapai/meraih kinerja berdasarkan data yang tersedia. 

Kegiatan pengembangan profesionalisme diarahkan pada system restructuring yang biasanya tergantung pada inisiatif dan dukungan system administrasi. Professional Sustenance, pengembangan profesionalisme menekankan pada belajar dari pengalaman individu atau kelompok tentang bagaimana praktik pendidikan sehari hari yang dilakukan oleh kepala sekolah/orang lain. Dari gambaran ini pengembangan  profesionalisme kepala sekolah mencoba menemukan kebutuhan pengembangan profesional seperti yang dibutuhkan orang lain kalau menjadi pendidik di tempat lain atau di masyarakat. Kebutuhan cenderung bersifat praktis, berkaitan dengan moral dan aspek-aspek etika dalam praktik pembelajaran dan pendidikan sehari-hari. Pengembangan profesionalisme dalam pendekatan Profesional Sustenance diarahkan pada  kegiatan yang melibatkan peserta/kepala sekolah dalam mentukan topik serta untuk mencapai kebutuhan-kebutuhan yang mereka identifikasi sendiri. Self-determination  menjadi salah satu indikator dari pendekatan ini. Secara umum, program pengembangan profesionalisme kepala sekolah dalam pendekatan professional sustenance diarahkan pada : 

·         Berdasan isu-isu yang berkembang dalam paktik pembelajaran dan pendidikan di sekolah,

·         Dikaitkan dengan definisi professional yang diidentifikasi kepala sekolah itu sendiri dan

·         Berkaitan dengan etika professional pendidik. 

Kegiatan pengembangan professional berdasarkan pendekatan Professional Sustenance biasanya berdasarkan inisiatif personal dan teman sejawat atau kolega sesama kepala sekolah. Professional Transformation, orientasi pengembangan professional dikaitkan dengan belajar alternative terhadap system pendidikan dan untuk mencapai tujuan yang bersifat pribadi sebagai perkembangan, keadilan social dan persamaan hak. Pendekatan ini terhadap pengembangan profesionalisme kepala sekolah mendorong mereka untuk mempertimbangan masalah social, kelembagaan dan hambatan pribadi dalam pelaksanaan tugasnya sehari-hari (Hinkson, 1991) dan mungkin juga dilakukan sesuai dengan perbedaan minat atau kepentingan orang yang bekerja sama dengan yang bersangkutan atau kepentingan social dalam arti luas. Penekanan belajar pada  kolaborasi dan dukungan serta mencari cara-cara untuk memberdayakan staf dan warga sekolah untuk membawa “konstruksi secara social dan menekankan orang terhadap perubahan. Program pengembangan professional berdasarkan pendekatan ini diarahkan pada bagaimana kepala sekolah dapat bekerja sama dengan orang lain untuk: 

·         Membangun masyarakat, sistem dan organisasi berdasarkan kritik yang dihadapi

·         Pertanyaan yang berkaitan dengan mutu pendidikan, pembelajaran dan persekolahan

·         Analisis dan mempertajam kemampuan profesional secara kolektif, dan

·         Rekontruksi sekolah dan administrasi sekolah dengan berbagai alternative. Kegiatan pengembangan professional berdasarkan pendekatan Professional Transformation biasanya  tergantung pada inisiatif dan dukungan kolega kepala sekolah. Kerangka kerja yang digambarkan pada diagram 1 di atas berimplikasi bahwa System Maintenance dan Professional Sustenance mengorientasikan pengembangan professional untuk mempertahankan organisasi/sekolah dan hubungan social dengan menekankan bentuk-bentuk reproduksi in-service pendidikan, sementara pendekatan  System Restructuring dan Professional Transformation cenderung mendorong perubahan melalui bentuk-bentuk rekontruksi dalam in-service pendidikan. Dalam pengertian pedagogis, pendekatan System Maintenance dan Professional Sustenance  cenderung menekankan pengajaran yang didasarkan pada  dasar-dasar system yang dianut pembelajar dalam hidupnya, sementara pendekatan System Restructuring dan Professional Transformation  cenderung  menekankan perubahan melalui bentuk pendidikan in-service. Satu hal yang dapat digambarkan dari kerangka kerja di atas adalah bahwa sumber daya dan pembiayaan untuk pengembangan profesionalisme lebih difokuskan pada  system dari pada manusianya. Organisasi/sekolah cenderung membuat system anggaran untuk pengembangan pelatihan yang akan diikuti oleh orang-orang di lembaga tersebut sesuai dengan minat mereka. Implikasi lain adalah keseimbangan pengembangan profesionalisme tidak mungkin dicapai kalau hanya dengan satu pendekatan, oleh sebab itu pendekatan yang lebih berorientasi pada pengembangan professional berbasis manusia perlu digunakan untuk mendapatkan keseimbangan.   

 Tiga Hasil Penelitian 

Deskripsi singkat tentang tujuan, temuan-temuan pilihan  dari tiga sekolah yang berkaitan dengan studi tentang manajemen, ada empat hal yang berkaitan dengan pengembangan professionalisme kepala sekolah, berikut ini adalah penjelasannya secara singkat;  

 Studi 1: The Primary School Planning Project (PSPP) 

Studi ini diawali dari keterlibatan kepala sekolah dalam penelitian  dirancang untuk mengetahui dampak dan efek dari pengembangan rencana sekolah dasar di Inggris. Kemudian di Australia bersama dengan kolega  dicoba dikembangkan studi yang sama dengan bantuan tenaga ahli dari Inggris. Tujuan dari studi tersebut adalah: 

·         Mendokumentasikan penggunaan dan efek pengembangan perencanaan di sekolah dasar,

·         Menggambarkan pelaksanaan perencanaan; dan

·         Mendesiminasikan informasi untuk menghadapi kritikan, evaluasi dan pemahaman kebijakan dan pelaksanaan pengembangan perencanaan di sekolah.

Studi dilaksanakan di sekolah pemerintah dan sekolah Katolik dengan menggunakan kombinasi pendekatan kualitatif  dan kuantitatif. Data dari tiga set kuesioner digunakan secara nasional untuk mengembangkan perencanaan dan efeknya. Survei pertama (N= 1053) ditanyakan kepada kepala sekolah apa yang menjadi isi dan bagaimana prosedur yang mereka tempuh dalam membuat perencanaan sekolah. Survei kedua, data dikumpulkan dari orang tua (N=678), kepala sekolah (N=699), tenaga administrasi (N=450) dan kepala sekolah (N=911) tentang proses dan keuntungan dari pengembangan perencanaan sekolah. Survei ketiga, data dikumpulkan  96 dari 101 regional yang bertanggung jawab terhadap 6425 sekolah pemerintah dan sekolah Katolik. Data kualitatif tentang pengembangan perencanaan sekolah dikumpulkan oleh 9 peneliti yang melakukan studi kasus pada 10 sekolah. Sekolah diseleksi berdasarkan tingkatan, ukuran sekolah, lokasi dan status social ekonomi. Tujuan utama studi kasus tersebut ada dua hal, pertama, peneliti berkonsentrasi pada kegiatan pembelajaran di kelas dalam rangka untuk mendapatkan pemahaman bagaimana pengembangan perencanaan sekolah dan dampaknya terhadap pembelajaran di kelas. Kedua,  difokuskan pada dampak dari pengembangan perencanaan sekolah secara keseluruhan. Temuan dari studi ini dipublikasikan dalam bentuk buku yang diberi judul “ Planning for Better Primary School (Logan, Sachs and Dempster, 1996). 

Temuan dari PSPP: 

PSPP menggambarkan bahwa  umumnya pengembangan perencanaan sekolah  terdiri dari rencana strategis sekolah tiga tahun yang diterjemahkan ke dalam rencana kerja tahunan secara operasional. Perencanaan tersebut biasanya dihasilkan dari kerjasama orangtua, kepala sekolah dan kepala sekolah. Secara umum temuan-temuan dari studi adalah sebagai berikut: 

·         Bahwa sekolah mengembangkan rencana, baik sekolah pemerintah maupun sekolah Katolik di Australia,

·         Pengembangan perencanaan berkaitan dengan tujuan, skala prioritas dan otoritas system,

·         Pada Rencana strategic sekolah dirumuskan hasil yang harus dicapai oleh kepala sekolah dan kepala sekolah secara akuntabel

·         Peran kepala sekolah sangat kritis untuk rencana strategic, rencana operasional dan implementasinya,

·         Pengembangan perencanaan adalah hasil kerja kepala sekolah dan kepala sekolah secara intensif;

·         Kepala sekolah sering menjadi alat untuk mediasi antara tuntutan system dengan permintaan local dalam penetapan perencanaan;

·         Pengembangan rencana  meliputi pengembangan professional kepala sekolah dan kepala sekolah dalam pembelajaran sesuai prioritas;

·         Kepala sekolah lebih merasakan banyak manfaat dari pengembangan perencanaan dari pada kelemahannya Beberapa Implikasi PSPP untuk pengembangan profesionalisme kepala sekolah: Pada kesimpulan proyek ini, kita melihat tahapan atau fase  kaitan rencana pengembangan profesionalisme sebagai respon terhadap  apa yang kita lihat terjadi dalam studi kasus di 12 sekolah dan data survei sebagai pengaruh dari rencana sekolah pada in-service pendidikan. Terlihat bukti yang sangat jelas bahwa kepala sekolah dan guru mempunyai komitmen yang tinggi untuk pengembangan profesionalisme yang terlihat pada rencana strategic sekolah maupun pada rencana tahunan yang mereka buat serta termasuk dalam skala prioritas yang mendesak untuk dilakukan. Secara keseluruhan, terbukti dari PSPP sejauh ini sangat mendukung adanya pengembangan profesionalisme guru dan kepala sekolah di Australia. Pengembangan profesionalisme tersebut didasarkan pada kebutuhan dan tuntutan dari system yang mereka tempati dalam prioritas sangat perlu dilakukan. Pengembangan profesionalisme:

·         Tanya kepala sekolah dan guru untuk melihat kembali arah belajar sesuai skala prioritas;

·         Uraikan peran  kebutuhan profesionalisme personal dan pengalaman dalam belajar orang dewasa;

·         Pertajam pembelajaran karir sesuai dengan kondisi organisasi dan kaitannya dengan kerja kepala sekolah dan guru;

·         Gagal menghargai tuntutan kritis dari masyarakat tentang refleksi dalam belajar  saat ini dan sebagai acuan praktis. 

 Studi 2: The Expectations of School Principal Study (ESPS) 

Studi tentang harapan terhadap kepala sekolah seperti di atas, dilakukan juga di Skotlandia, Inggris dan Denmark. Studi tersebut berkaitan dengan penyelidikan tentang bagaimana kerja kepala sekolah dipertajam sesuai dengan harapan dari pemangku kepentingan baik di sekolah maupun di luar sekolah ketika manajemen berbasis sekolah lagi mewabah di semua Negara. Rancangan studi yang dilakukan di Queensland menggunakan kombinasi penelitian kuantitatif dan kualitatif bekerjasama dengan peneliti dari beberapa perguruan tinggi, yang meliputi: 

·         Kelompok diskusi dengan 12 kepala sekolah untuk mendapatkan pandangan mereka tentang kepemimpinan sekolah, persepsi mereka tentang yang diharapkan orang lain dan harapan mereka sendiri terhadap dirinya;

·         Wawancara individual dengan 12 kepala sekolah untuk mengidentifikasi harapan yang signifikan mempengaruhi tindakan;

·         Survey terhadap siswa (N=584), orang tua dan guru (N=472) untuk memperluas data wawancara dan untuk menindaklanjuti bukti-bukti yang diperoleh dari wawancara;dan

·         Focus group discussion (kelompok diskusi) dengan pemangku kepentingan yang tertarik dengan kepemimpinan sekolah, yang meliputi pengambil kebijakan pendidikan, pegawai pendidikan di daerah atau regional, konselor sekolah, politisi dan lain-lain.  

Temuan dari ESPS:

 Hasil studi ini terdiri dari dua set, satu set berupa harapan terhadap  kepala sekolah oleh siswa, kedua, harapan terhadap kepala sekolah oleh guru dan orang tua.  Harapan Siswa:Umumnya siswa mengharapkan kepala sekolah yang ramah yang memahami dunia  realitas siswa. Siswa juga mengharapkan  kepala sekolah yang punya visi, mudah dihubungi dan peduli  dan melindungi siswa dan bertanggung jawab.  Siswa  bersedia dipimpin walaupun mungkin mereka beda budaya dan norma bahkan beda agama. Kepala sekolah perlu berada di antara siswa, dekat dengan siswa, guru dan staf sekolah. Harapan Guru dan Orang tua:Bagaimana harapan  orang tua dan guru dapat dilihat pada  diagram di bawah ini.            

  Beberapa Implikasi ESPS untuk pengembangan profesionalisme guru dan kepala sekolah: Pertama, kepala sekolah perlu konsentrasi untuk mempelajari hal yang membuat iklim sekolah menjadi “smooth”; mengembangkan pengetahuan dan keterampilan untuk menciptakan iklim kerja yang kondusif. Kedua, kepala sekolah perlu memperhatikan harapan dari siswa, orang tua dan guru terhadap peran mereka sebagai kepala sekolah terutama bagaimana mereka diharapkan memimpin dan mengelola sekolah sesuai dengan aturan dan tuntutan. Ketiga, meskipun tidak termasuk prioritas utama, kepala sekolah juga harus memikirkan perubahan yang terjadi di sekolah. 

 Studi 3: The Principals’ Ethical Decicion-making Study (PEDMS) 

Berdasarkan hasil studi ini juga terlihat bahwa kepala sekolah sering menghadapi dilemma atau menghadapi situasi sulit dalam mengambil keputusan karena berbagai kepentingan. Hal ini tidak hanya terjadi di Australia akan ditetapi di empat Negara di mana studi dilakukan. Masalah etika yang dihadapi kepala dalam pengambilan keputusan diperoleh berdasarkan hasil wawancara  dengan kepala sekolah (N=25) dari berbagai metropolitan, propinsi dan daerah untuk mengindentifikasi isu-isu yang berkembang dan strategis yang mereka terapkan untuk mengatasinya. Hasil wawancara didukung data yang diperoleh dari survey terhadap 552 kepala sekolah di sekolah public. 

Temuan-temuan dari PEDMS: 

Satu temuan penting dari studi ini adalah bahwa kepala sekolah perlu pengembangan professional dalam hal etika dalam pengambilan keputusan. (lihat diagram 4). Dari 155 kepala sekolah yang mengikuti pengembangan profesionalisme di bidang etika pengambilan keputusan:

·         12% menyatakan bahwa pendidikan sebelumnya membekali mereka tentang etika pengambilan keputusan;

·         4% menyatakan bahwa mereka mengambil  pendidikan  atau pelatihan khusus untuk masalah tersebut (undergraduate)

·         35% menyatakan mengambil pendidikan khusus tentang etika dalam pengambilan keputusan pada pendidikan pasca sarjana.Hampir setengah dari 155 kepala sekolah menyatakan bahwa mereka mengambil pelatihan khusus di universitas yang berkaitan dengan etika dalam pengambilan keputusan. Dan umumnya mereka yang mengikuti pendidikan khusus tentang ini terlibat dalam berbagai kegiatan program pengembangan profesionalisme. Beberapa hal yang penting dalam etika pengambilan keputusan dapat dilihat pada diagram 5.       Model Penyampaian Program Pengembangan Profesionalisme                    

  Beberapa Implikasi dari PEDMS untuk Pengembangan Profesionalisme Kepala Sekolah dan guru: Kepala sekolah mengatakan bahwa mereka mengakui dan menyatakan bahwa etika dalam pengambilan keputusan diperlukan,  mereka mengindentifikasi bahwa  keterampilan interpersonal adalah sesuatu yang esensial dalam mengatasi persoalan yang sulit dan  mereka memerlukan referensi dalam penyelesaian persoalan tertentu.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                               

About these ads


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: