24
Nov
08

WORKSHOP LESSON STUDY DI SMPK1 BPK BDG

PENINGKATAN PROFESIONALISME GURU MELALUI LESSON STUDY

Dr. Jamisten Situmorang[1]

 

 

A.   Apa itu Lesson Study?

Pembelajaran yang berkualitas di kelas akan tercapai apabila guru merencanakan dan melaksanakan dengan baik. Untuk itu guru tersebut harus menguasai substansi materi bidang studi yang diajarkan dan menguasai bagaimana cara mengajarkannya. Guru juga dituntut menumbuhkan sikap positif terhadap suasana pembelajaran agar membuat siswa berpikir dengan memberi respon yang tepat pada siswa yang kreatif. Melalui lesson study, guru dapat mengamati pelaksanaan pembelajaran yang diteliti (research lesson) dan dapat mengadopsi pembelajaran yang sejenis setelah mengamati respon siswa yang tertarik dan termotivasi untuk belajar dengan cara seperti yang dilaksanakan pada saat melakukan pengamatan langsung terhadap pembelajaran yang diteliti maupun laporan tertulis, video, ataupun berbagi pengalaman dengan sejawat. Melalui kegiatan Lesson Study, guru dapat meningkatkan mutu pembelajaran di kelas serta meningkatkan profesionalismenya, yang pada akhirnya meningkatkan mutu lulusan.

Lesson study (Jugyokenkyu) adalah bentuk pengembangan profesionalisme guru, yang ditemukan di Jepang, di mana guru secara sistematis dan berkolaborasi melakukan penelitian dalam pembelajaran di kelas dalam upaya meningkatkan kualitas pembeljaran dan memperkaya pengalaman belajar siswa. Seacara umum, Lesson Study melibatkan sekolompok guru secara kolaboratif, merencanakan satu pokok bahasan, melaksanakan pembelajaran di sekolah, mengumpulkan data hasil observasi terhadap kesleuruhan pembelajaran, melakukan refleksi dan membahas data serta membuat laporan hasil kegiatan tersebut. Lesson Study lebih dari sekedar mempelajari bahan ajar dan mengembangkan pembelajaran yang bermanfaat. LS menjajaki gagasan untuk mengembangkan pembelajaran yang membuat siswa  berpikir (proses), membantu siswa untuk mengembangkan imaginasi untuk memecahkan masalah dan memmahami topik dan meningkatkan keterampilan dan kemampuan mereka yang dilakukan secara berkelanjutan.

Lesson study adalah pendekatan komprehensif untuk meningkatkan professionalisme guru dengan cara melibatkan guru sejawat secara berkolaborasi dalam merencanakan, mengimplementasikan, mengumpulkan data (observasi), melakukan refleksi dan membahas data yang diperoleh dan menuliskan dalam laporan.

ü  Berpikir  mengenai pembelajaran di kelas

ü  Merencanakan pembelajaran (planning lessons)

ü  Mengobservasi bagaimana siswa berpikir dan belajar serta mengambil tindakan yang sesuai

ü  Melakukan refleksi dan membahas, mendiskusikan pembelajaran tersebut

ü  Mengidentifikasi dan menghargai pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan memperbaiki praktik pembelajaran dan mencari solusi baru.

Lesson study  mendukung guru untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat tentang bagaimana caranya mengembangkan dan meningkatkan pembelajaran di kelas untuk melaksnakan pembelajaran efektif. Lesson study merupakan model alternatif pembinaan guru berkelanjutan untuk meningkatkan profesionalisme melalui kolaborasi kesejawatan. Dalam Lesson study sekelompok guru bertemu secara reguler dan periodik untuk merancang, mengimplementasikan, menguji coba, menganalisis kinerja, dan mengembangkan kembali pembelajaran agar siswa belajar. Melalui lesson study dapat diketahui seberapa efektif dan efesien pembelajaran yang dirancang bersama tersebut.

 

Lesson study dilaksanakan dalam 3 tahapan. Pertama, perencanaan (plan). Guru-guru dalam bidang studi sejenis, misalnya MIPA (Matematika dan IPA) berkolaborasi merancang/mengembangkan pembelajaran yang berpusat pada siswa. Kegiatan dilakukan dalam bentuk workshop atau pertemuan di sekolah.  Kedua, implementasi (do). Guru mengimplementasikan model pembelajaran di kelas, sementara guru lain, kepala sekolah, dan pengawas sebagai suatu komunitas melakukan observasi pembelajaran di dalam kelas. Observasi dilakukan untuk mengetahui aktivitas siswa berupa interaksi siswa-siswa, siswa-bahan ajar/sumber belajar, siswa-guru selama pembelajaran. Kegiatan observasi kelas tersebut dapat dibuat terbuka untuk guru-guru non-MIPA bahkan orang tua dan masyarakat. Misalnya saja 30 orang hadir di dalam kelas melakukan observasi pembelajaran tanpa mengganggu proses pembelajaran.

Ketiga, post-class discussion/refleksi (see). Setelah pembelajaran berlangsung, guru dan observer melakukan diskusi yang dipimpin kepala sekolah atau wakil kepala sekolah bidang kurikulum untuk bertukar pengalaman selama melakukan observasi pembelajaran. Guru menyampaikan kesan-kesannya selama melaksanakan pembelajaran, selanjutnya observer menyampaikan lesson learn dan saran-saran untuk perbaikan pembelajaran berikutnya. Selain itu, pada akhir semester dilakukan kegiatan exchange of experience untuk berbagi pengalaman dalam mengimplementasikan lesson study. Guru yang melaksanakan pembelajaran menyajikan makalah dan rekaman video hasil kegiatan lesson study dalam bentuk seminar kecil. Berbagai fenomena transaksi pembelajaran yang terjadi didiskusikan secara kritis, hal yang telah baik dan terus dimantapkan dilakukan  dan dapat dijadikan sebagai acuan pembelajaran yang lain. Hal-hal yang disepakti bersama sebagai hal-hal yang sebaiknya tidak perlu ada atau kegiatan yang tidak produktif yang terjadi sepanjang pembelajaran dijadiakan sebagai non-contoh dalam pembelajaran bagi guru yang bersangkutan dan guru lain. Sehingga dengan demikian, terjadi belajar secara kolektif dalam suatu komunitas, secara berkelanjutan dalam membenahi kinerja pembelajaran yang dilakukan guru.

Berdasarkan hasil analisis terhadap implementasi lesson study ini dinilai efektif untuk meningkatkan keprofesionalan guru. Guru menjadi lebih terbuka dan kolaboratif, bersedia untuk dilihat orang lain ketika melaksanakan pembelajaran sehingga guru tersebut  berusaha sebaik mungkin melaksanakan pembelajaran. Pada saat  observasi, guru-guru lain belajar dari pengalaman bagaimana membelajarkan siswa sehingga mereka memiliki obsesi untuk memperbaiki diri dalam melaksanakan pembelajaran yang akan datang. Sedangkan melalui kegiatan refleksi, guru menjadi lebih terbiasa untuk menerima saran-saran dari kawan sejawat dan fasilitator/mitra. Kegiatan pembelajaran tidak terganggu walaupun banyak observer di dalam kelas pada saat implementasi. Temuan lain, terjadi interaksi yang lebih aktif antara siswa-siswa, siswa-objek, dan siswa-guru dan kepala sekolah menjadi lebih berperan secara teknis edukatif dalam supervisi pembelajaran serta terdokumentasikannya proses pembelajaran untuk perbaikan pembelajaran. Leadership kepala sekolah sangat menentukan keberhasilan lesson study yang tercermin dari peningkatan kualitas aktivitas siswa dalam pembelajaran.

 

Melalui lesson study, guru dimotivasi untuk berusaha sebaik mungkin dalam menyusun perencanaan pembelajaran dengan perangkat-perangkat pendukungnya,  mengimplementasikan rencana pembelajaran yang telah dibuat, dan memperoleh masukan atau klarifikasi atas berbagai kekurang-jelasan, keraguan serta kekeliruan yang terjadi selama pembuatan rencana pembelajaran dan pengimplementasiannya melalui refleksi dan diskusi bersama para guru sejawat dan  fasilitator atau konsultan pendamping. Selain untuk meningkatkan profesionalisme dan penguasaan standar kompetensi sebagai guru mata pelajaran, bersama-sama dengan guru sejawat dengan bimbingan konsultan pendamping, diharapkan mampu melatih guru untuk mengembangkan jiwa kesejawatan. Dengan kesejawatan ini akan mendorong guru untuk lebih meningkatkan kualitas pembelajarannya karena mengetahui proses pembelajaran yang berlangsung di sekolah lain.

Peran mitra atau konsultan atau konselor adalah dalam hal merancang perbaikan atau mengimplementaikan krativitas suatu pembelajaran serta membantu mengembangkan instrumen analisis terhadap profile pembelajaran yang dirancang, dilaksanakan, dan rencana pengembangan selanjutnya secara berkelanjutan. Konsultan atau mitra atau konselor dapat berperan sebagai akselerator peningkatan kinerja guru secara berkelanjutan untuk keseluruhan siklus lesson study, mulai dari plan (pengembangan RPP), do mengimplementasikan RPP yang telah dikembangakan dengan muatan inovasi dan kreativitas, see merefleksikan profile pembelajaran yang dilakukan dan rencana perbaikan atau pengembangan selanjutnya untuk mengoptimalkan pencapaian siswa.

 

B.  Tujuan

 

Tujuan yang ingin dicapai melalui kegiatan implementasi lesson study adalah untuk meningkatkan profesionalisme guru, secara khusus dirinci sebagai berikut.

1.    Melatih para guru melakukan kegiatan Lesson Study pada bidang studi yang menjadi tanggung jawabnya (mata pelajaran yang diampu) melalui kegiatan Workshop Sehari tentang Lesson Study

2.    Merancang implementasi program Lesson Study di SMPK 1 BPK Bandung untuk pembelajaran MIPA dan IPS sesuai kebutuhan sekolah dengan melibatkan tenaga ahli sebagai konsultan atau reviewer?

3.    Terbangunnya komunitas belajar antara guru dengan guru dan guru dengan konsultan/fasilitator yang sangat bermanfaat untuk meningkatkan efektivitas komunikasi akademik dalam rangka memperbaiki dan mengembangkan kualitas pembelajaran  di SMPK 1 BPK Penabur Bandung.

4.    Ditemukannya berbagai model pembelajaran sesuai tuntutan kurikulum dan permasalahan pembelajaran di SMPK 1 BPK Penabur Bandung dengan berdasar pada pemanfaatan hands-on activity, daily life dan local material.

 

C.  Mengapa Lesson study?

Lesson study dipilih dan dimplementasikan karena beberapa alasan.
Pertama, lesson study merupakan suatu cara efektif yang dapat meningkatkan kualitas pembelajaran yang dilakukan guru dan aktivitas belajar siswa. Hal ini karena pengembangan lesson study dilakukan dan didasarkan pada hasil “sharing” pengetahuan profesional yang berlandaskan pada praktik dan hasil pengajaran yang dilaksanakan para guru, penekanan mendasar pada pelaksanaan suatu lesson study adalah agar para siswa memiliki kualitas belajar, kompetensi yang diharapkan dimiliki siswa, dijadikan fokus dan titik perhatian utama dalam pembelajaran di kelas. Berdasarkan pengalaman riil di kelas, lesson study mampu menjadi landasan bagi pengembangan pembelajaran, dan  lesson study akan menempatkan peran para guru sebagai peneliti pembelajaran (Lewis,2002).

Kedua, lesson study yang didisain dengan baik akan menjadikan guru yang profesional dan inovatif. Dengan melaksanakan lesson study para guru dapat  menentukan kompetensi yang perlu dimiliki siswa, merencanakan dan melaksanakan pembelajaran (lesson) yang efektif;  mengkaji dan meningkatkan pelajaran yang bermanfaat bagi siswa; memperdalam pengetahuan tentang mata pelajaran yang disajikan para guru;  menentukan standar kompetensi yang akan dicapai para siswa; merencanakan pelajaran secara kolaboratif;  mengkaji secara teliti belajar dan perilaku siswa; mengembangkan pengetahuan pembelajaran yang dapat diandalkan; dan melakukan refleksi terhadap pengajaran yang dilaksanakannya berdasarkan pandangan siswa dan koleganya (Lewis, 2002).

Wang-Iverson dan Yoshida (2005) mengatakan bahwa lesson study memiliki beberapa manfaat sebagai berikut.

ü  Mengurangi keterasingan guru (dari komunitasnya)

ü  Membantu guru untuk mengobservasi dan mengkritisi pembelajarannya

ü  Memperdalam pemahaman guru tentang materi pelajaran, cakupan dan urutan materi dalam kurikulum.

ü  Membantu guru memfokuskan bantuannya pada seluruh aktivitas belajar siswa.

ü  Menciptakan terjadinya pertukaran pengetahuan tentang pemahaman berpikir dan belajar siswa

ü  Meningkatkan kolaborasi pada sesama guru.

 

 

D.  Bagaimana Melaksanakan Lesson Study?

 

LS adalah struktur kerjasama guru yang meliputi, perencanaan pembelajaran, observasi pembelajaran dan diskusi hasilnya, dilanjutkan dengan revisi dan mengajarkannya lagi. Langkah-langkah tersebut telah berjalan baik karena dihasilkan berdasarkan uji coba…

 

Lesson Planning


Inti dari LS adalah pembelajaran. Pembelajaran yang  diteliti biasanya direncanakan oleh tim dan dituliskan secara detail. Topik yang dipilih untuk diajarkan memberi tantangan bagi siswa,sulit atau merupakan permasalahan…

Pembelajaran

Rencana Pembelajaran yang disusun secara kolaboratif kemudian dilaksanakan dengan berbagi peran, siapa  guru yang akan bertugas mengamati reaksi siswa pada saat mengikuti pembelajaran tersebut. Satu atau dua orang guru mengajarkan topik sesuai dengan perencanaan. Ketika siswa dihadapkan pada persoalan di dalam pembelajaran tersebut, guru pengamat berupaya merekam apa yang terjadi dalam pembelajaran tersebut, apa yang dipikirkan siswa tetapi tidak berkomunikasi dengan siswa atau pun membantu siswa tersebut. Sementara guru yang mengajar dan sedang diamati tersebut dapat meminta pengamat untuk memperhatikan siswa tertentu atau bagian tertentu dari pembelajaran yang dilaksanakan…

Lesson Discussion

Berikutnya adalah diskusi atau pembahasan terhadap pembelajaran tersebut. Moderator meminta guru yang mengajar memberi tanggapan terhadap pembelajaran yang dilakukannya. Kemudian guru yang bertugas sebagai pengamat bertanya kepada guru yang mengajar. Pertanyaannya berfokus pada masalah dalam pembelajaran tersebut. Kapan siswa telah memahami, kapan kelihatan bingung? Apakah materi pembelajaran tersebut memadai? Apakah pertanyaan-pertanyaan mendorong siswa untuk berpikir? Bagaimana reaksi siswa-siswa tersebut bila dibandingkan dengan yang direncanakan? Apa yang perlu diperbaiki agar pembelajaran tersebut menjadi lebih baik? Tujuan adalah memperbaiki atau meningkatkan pembelajaran. 

Referensi

Fernandez, C. (2002). Learning from Japanese approaches to professional development: The case of lesson study. Journal of Teacher Education, 53(5), 393-406.

Fernandez, C. & Chokshi, S. (2002). A practical guide to translating lesson study for a U.S. setting. Phi Delta Kappan, 84(2), 128-134.

Fernandez, C., & Yoshida, M. (2000). Lesson study as a model for improving teaching: Insights, challenges and a vision for the future. In A. Poliakoff & T.D. Schwartzbeck (Eds.), Eye of the storm: Promising practices for improving instruction, pp. 32-40. Washington, DC: Council for Basic Education.

Lewis, C. (2002). Lesson study: A handbook of teacher-led instructional change. Philadelphia, PA: Research for Better Schools.

Lewis, C., & Tsuchida, I. (1998). A lesson is like a swiftly flowing river: How research lessons improve Japanese education. American Educator, 22(4), 12-17, 50-52.

Lewis, C. (2000, April). Lesson study: The core of Japanese professional development. Paper presented at the annual meeting of the American Educational Research Association, New Orleans, LA.

Yoshida, M. (1999, April). Lesson study [jugyokenkyu in elementary school mathematics in Japan: A case study. Paper presented at the annual meeting of the American Educational Research Association, Montreal, Canada.

 

 

 



[1] Dr. Jamisten Situmorang, konsultan di Direktorat Pembinaan Diklat, Ditjen PMPTK, Depdiknas

About these ads


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: