10
Des
08

pendidikan inklusi

PENDIDIKAN INKLUSI DI INDONESIA

PELUANG DAN TANTANGAN

Dr. Jamisten Situmorang[1]

 

 

 

A.   Rasional

 

1.    Perhatian pemerintah Indonesia dalam bidang pendidikan dan lembaga-lembaga multilateral secara global saat ini adalah penurunan angka kemiskinan. Tujuan Pembangunan Milenium ditetapkan dalam Pertemuan Puncak Pembangunan Milenium PBB (September 2000) dan telah didukung oleh Bank Dunia dan 149 kepala negara. Ada dua hal yang menjadi tujuan pendidikan dalam pertemuan tersebut. Pertama adalah memberantas kemiskinan dan kelaparan dan mencapai pendidikan dasar universal (Pendidikan Untuk Semua [PUS] – Education For All). Kedua hal ini  sebenarnya beririsan atau saling berkaitan. Pendidikan diyakini sebagai instrumen untuk memberantas kemiskinan. Melalui PUS diprediksi kemiskinan dan kelaparan akan teratasi.

 

2.    Kerangka Aksi Dakar menekankan adanya hubungan yang erat antara pemberantasan kemiskinan dan pencapaian pendidikan untuk semua: Pasal 5 menyatakan, “Tanpa kemajuan yang pesat menuju pendidikan untuk semua, target yang disetujui secara nasional dan internasional untuk penurunan angka kemiskinan tidak akan tercapai dan ketidaksetaraan antara negara-negara dan di dalam masyarakat akan melebar. Sedangkan pada Pasal 6 dinyatakan bahwa: “Pendidikan merupakan kunci keberlangsungan pembangunan…”

 

3.    Implementasi PUS, semua anak seyogyanya memperoleh akses finansial, sosial dan fisik ke sekolah yang ada di lingkungannya; oleh karenanya, sekolah seyogyanya bebas biaya termasuk biaya terselubung [aksesibilitas finansial]; anak seyogyanya diterima tanpa memandang kemampuannya, kecacatannya, gendernya, status HIV dan kesehatannya maupun latar belakang sosial, ekonomi, etnik, agama ataupun bahasanya [aksesibilitas sosial]; dan sekolah seyogyanya memiliki aksesibilitas fisik bagi anak dengan maupun tanpa kecacatan (Sue Stubbs, 2002).

 

4.    Pendidikan untuk anak-anak dengan latar belakang dan kemampuan yang beragam tetap menjadi tantangan utama di wilayah Asia-Pasifik. Forum Pendidikan Dunia yang diadakan di Dakar, Senegal, April 2000 menentukan tujuan keduanya: “memastikan bahwa pada tahun 2015 semua anak, dengan penekanan khusus pada anak perempuan, anak dalam keadaan yang sulit dan anak dari etnis minoritas, memiliki akses terhadap pendidikan dasar yang wajib dan bebas biaya dengan kualitas yang baik”. Dengan melaksanakan tujuan ini berarti meningkatkan jumlah dan tingkat kelulusan anak di sekolah; menghilangkan bias di dalam sekolah, sistem pendidikan nasional dan kurikulum; dan menghilangkan diskriminasi sosial dan budaya yang membatasi tuntutan untuk pendidikan anak dengan latar belakang dan kemampuan yang beraneka ragam.

 

5.    Anak penyandang cacat’ termasuk anak penyandang cacat fisik, sensori atau intelektual, dan mereka yang seringkali termarjinalisasikan. Mereka adalah anak-anak yang terlahir cacat fisik atau psikis atau yang mendapatkan kecacatan kemudian karena penyakit, kecelakaan atau penyebab lainnya. Kecacatan bisa berarti bahwa anak akan mengalami kesulitan melihat, mendengar, bergerak dan menggunakan tangan kaki dan tubuhnya, dan mereka mungkin belajar lebih lambat dan dengan cara yang berbeda dibanding anak lain. Di banyak negara, tidak semua anak diidentifikasi sebagai penyandang cacat juga mempunyai kebutuhan pendidikan khusus dan begitu sebaliknya. Oleh karena itu, kedua kelompok ini tidak identik sama. Anak penyandang cacat mampu belajar dan mempunyai hak yang sama untuk bersekolah seperti layaknya anak lain tapi mereka seringkali dipisahkan dari sekolah di banyak negara di wilayah Asia Pasifik.

 

6.    Asumsi bahwa, semua guru profesional sebenarnya dapat mengajar anak yang berkebutuhan khusus. Makanya anak berkebutuhan khusus digabung dengan anak di sekolah umum (mainstream) daripada menyekolahkan mereka di sekolah luar biasa atau sekolah khusus (di Malaysia disebut pendidikan khas). Bahkan di Belanda ada istilah “All of us in school together again.  Ini pada prinsipnya yang mendasari  pendidikan inklusi.

 

7.     Ketidaksetaraan dalam pendidikan tetap menjadi kekhawatiran dan perhatian bagi semua negara, namun diskriminasi tetap menyebar di sekolah dan sistem pendidikan. Untuk menjembatani jarak ini, sangat penting menumbuhkan kesadaran pada guru dan administrator pendidikan tentang pentingnya pendidikan inklusi. Sama pentingnya juga untuk memberikan alat-alat praktis kepada mereka, yang diperlukan untuk menganalisa situasi mereka dan memastikan bahwa semua anak bersekolah dan belajar dengan kapasitas mereka sepenuhnya dan memastikan kesetaraan terjadi di dalam kelas, dalam bahan pembelajaran, dalam proses belajar dan mengajar, dalam kebijakan sekolah dan dalam memonitor hasil belajar.

 

8.     Hak atas Pendidikan Inklusi yang paling jelas telah dinyatakan dalam Pernyataan Salamanca dan Kerangka Aksi yang menekankan bahwa sekolah membutuhkan perubahan dan penyesuaian. Pentingnya penggalangan sumber-sumber yang tepat untuk inklusi dinyatakan dalam Peraturan Standar PBB. Baru-baru ini, implementasi instrumen-instrumen PBB tersebut telah dievaluasi oleh sejumlah LSM internasional yang menyatakan bahwa Pendidikan untuk Semua belum terlaksana dan tidak akan terlaksana kecuali adanya partisipasi di tingkat akar rumput dan adanya alokasi seumber-sumber secara nyata. Penurunan angka kemiskinan merupakan prioritas donor akhir-akhir ini, dan ada pengakuan bahwa PUS dan Pendidikan Inklusi tidak akan berjalan kecuali langkah-langkah yang berkesinambungan dilakukan untuk mengurangi kemiskinan.

 

 

 

 

B.   Landasan Hukum

 

Dokumen Internasional yang relevan dengan Pendidikan Inklusi:

1. 1948: Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia

2. 1989: Konvensi PBB tentang Hak Anak

3. 1990: Deklarasi Dunia tentang Pendidikan untuk Semua, Jomtien

4. 1993: Peraturan Standar tentang Persamaan Kesempatan bagi para Penyandang Cacat

5. 1994: Pernyataan Salamanca dan Kerangka Aksi tentang Pendidikan Kebutuhan Khusus

6. 1999: Tinjauan 5 tahun Salamanca

7. 2000: Kerangka Aksi Forum Pendidikan Dunia, Dakar

8. 2000: Tujuan Pembangunan Millenium yang berfokus pada Penurunan Angka Kemiskinan dan Pembangunan

9. 2001: Flagship PUS tentang Pendidikan dan Kecacatan

 

 

C.   Tujuan

 

Tujuan penulis makalah ini untuk memberikan suatu tinjauan terhadap masalah utama, konsep dan strategi yang berkaitan dengan Pendidikan Inklusi, yang difokuskan pada situasi di mana sumber ekonomi dan akses terhadap informasi terbatas. Beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan pendidikan inklusi yang hendak jawab dalam makalah singkat ini, antara lain:

 

1.    Apakah pendidikan inklusi dimaksudkan untuk  menginklusikan semua kelompok anak atau hanya menginklusikan anak-anak penyandang cacat?

2.    Apakah pendidikan inklusi merupakan prioritas di Indonesia?

3.    Bagaimanakah kaitan  pendidikan inklusi dengan persoalan yang dihadapi pendidikan seperti tingkat putus sekolah, kualitas pendidikan, penyekolahan anak perempuan, kurikulum yang kaku, kurangnya sumber-sumber?

4.    Apakah pendidikan inklusi dimaksudkan untuk mendidik SEMUA anak dari komunitas tertentu di dalam suatu bangunan sekolah yang sama?

5.    Apakah Pendidikan Inklusi sama dengan sekolah Inklusi?

6.    Apakah perbedaan antara Pendidikan Inklusi, Pendidikan Integrasi dan Pendidikan Luar Biasa?

7.    Apakah pendidikan inklusi tepat untuk anak penyandang cacat berat dan mereka yang tunarungu atau buta/tuli?

8.    Apakah ada cara yang “tepat” untuk melaksanakan pendidikan inklusi?

9.    Apakah ada rencana yang jelas yang dapat kita ikuti?

10. Apakah pendidikan inklusi benar-benar praktis, khususnya di negara-negara yang sumber-sumbernya terbatas dan tantangannya banyak?

 

 

 

D.   Bagaimana pendidikan inklusi dilaksanakan?

Tidak ada cara  yang mujarab, ampuh, spesial atau ilmu pendidikan yang bersifat “magis” dalam mengintegrasikan anak berkebutuhan khusus ke sekolah umum. Namun demikian, pergerakan menuju pendidikan inklusi dalam sekolah baik dilihat dalam teori maupun dalam praktiknya membutuhkan perubahan.Pada awalnya, inklusi membutuhkan format belajar yang berbeda, metode yang berbeda, dalam mengelompokkan anak dan dalam kegiatan pembelajaran pun dibedakan. Bahkan pada saat membuat perencanaan pembelajaran, hasil yang hendak dicapai pun dibuat berbeda. Elizabeth Burgwin  dari UK merupakan salah seorang pionir pendidikan inklusi. Burgwin, misalnya tertarik untuk menemukan cara menggabungkan anak-anak yang cacat ke dalam sekolah biasa (normal)dengan cara menyesuaikan dengan lingkungan. Walaupun sampai sekarang penyesuaian terhadap lingkungan fisik tersebut masih tetap masalah, tergantung ketersediaan uang untuk membangun fasilitas yag diperlukan. Selain itu, kepemimpinan kepala sekolah, termasuk komitmennya untuk menerima anak cacat di sekolah tersebut. Bahkan masyarakat lokal yang merupakan stakeholder sekolah tersebut juga berpengaruh terciptanya pendidikan inklusi.

 

‘Siswa dengan kebutuhan belajar atau pendidikan khusus’ berarti anak yang memerlukan perhatian khusus untuk membantu pembelajarannya. Di kebanyakan negara, perhatian ini diberikan di sekolah atau kelas khusus [SLB] atau sekolah/kelas reguler. Banyak negara memberikan label kelompok siswa yang berbeda sebagai ‘yang mempunyai kebutuhan pendidikan khusus’ yang menempatkan mereka secara terpisah dari siswa reguler. Oleh karena itu, ketika muncul dalam Perangkat ini, istilah ini mengakui adanya praktek pelabelan ini. Namun, ini TIDAK menganggap bahwa terdapat perbedaan pendidikan yang sebenarnya antara siswa berkebutuhan pendidikan atau pembelajaran khusus dan siswa reguler.

 

 

Pendidikan Inklusi didasarkan pada hak asasi dan model sosial; sistem yang harus disesuaikan dengan anak, bukan anak yang menyesuaikan diri dengan sistem. Pelajaran yang dapat diambil dari negara-negara kurang mampu di Selatan menekankan bahwa pendidikan inklusi bukan hanya mengenai sekolah tetapi lebih luas dan mencakup inisiatif dan keterlibatan masyarakat luas. Pendidikan inklusi dapat dipandang sebagai pergerakan yang menjunjung tinggi nilai-nilai, keyakinan

dan prinsip-prinsip utama yang berkaitan dengan anak, pendidikan, keberagaman dan diskriminasi, proses partisipasi dan sumbersumber yang tersedia. Banyak di antara hal tersebut merupakan tantangan terhadap status quo, tetapi penting jika masyarakat dan pembangunan secara keseluruhan ingin menjadi inklusi dan

memberikan manfaat kepada semua warganya.

 

 

Pendidikan inklusi merupakan suatu strategi untuk mempromosikan pendidikan universal yang efektif karena dapat menciptakan sekolah yang responsif terhadap beragam kebutuhan aktual dari anak dan masyarakat. Pendidikan inklusi menjamin akses dan kualitas.

 

·         Semua anak, termasuk anak penyandang cacat, berhak atas pendidikan.

·         Adanya komitmen untuk menemukan cara membantu anak yang belajar dengan cara dan kecepatan yang berbeda-beda agar benar-benar dapat belajar.

·         Mempromosikan perkembangan potensi individu anak secara holistik: secara fisik, linguistik, sosial, kognitif, sensori.

·         Mendukung bermacam-macam metoda komunikasi untuk penyandang berbagai kecacatan (Bahasa isyarat, Braille, papan tanda, bicara dengan bantuan komputer, Makaton, dll).

 

 

 

‘Pendidikan Inklusi’ atau ‘pembelajaran inklusi’ mengacu pada inklusi dan pengajaran SEMUA anak dalam lingkungan belajar formal atau non-formal tanpa mempertimbangkan gender, intelektual, sosial, emosi, linguistik, budaya, agama atau karakteristik lainnya.

 

Beberapa contoh tersebut meliputi:

·         Anak penyandang kecacatan intelektual diinklusikan dalam sistem pendidikan  umum di TK, pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi (Inggris).

·         Anak penyandang cacat diinklusikan di sekolah dengan jumlah anak lebih dari 100 orang per kelas (Lesotho)

·         Anak penyandang cacat diinklusikan di sekolah-sekolah di lingkungan masyarakat termiskin di dunia (Douentza, Mali).

·         Transformasi sistem yang kaku menjadi metodologi yang fleksibel yang berfokus pada diri anak (Cina)

·         Peningkatan mutu sekolah yang mengarah pada pendidikan inklusi dalam level pelatihan guru (Laos)

 

Pendidikan luar biasa berasumsi bahwa terdapat kelompok anak yang terpisah yang memiliki ‘kebutuhan pendidikan khusus’ dan seringkali disebut ‘anak berkebutuhan khusus’.

 

ASUMSI INI TIDAK BENAR karena:

·         Anak manapun dapat mengalami kesulitan dalam belajar

·         Banyak anak penyandang cacat tidak memiliki masalah dalam belajar, hanya mengalami masalah dalam aksesnya, namun mereka masih diberi label ‘anak berkebutuhan khusus’

·         Anak yang memiliki kecacatan intelektual seringkali dapat belajar dengan sangat baik dalam bidang tertentu atau pada tahap tertentu dalam hidupnya.

 

 

Tercapainya pendidikan dasar universal tidak hanya ditandai dengan masuknya anak secara secara fisik ke sekolah; agar pendidikan dapat menciptakan perubahan, pendidikan harus relevan dan efektif. Tujuan ini tidak akan tercapai kecuali anak dan orang dewasa penyandang cacat secara spesifik ditargetkan dan dilibatkan karena mereka merupakan unsur masyarakat termiskin di kalangan yang miskin.

 

 

 

E.   Best Practice Pendidikan Inklusi

 

Propinsi Anhui di Cina merupakan contoh yang baik untuk kebijakan pemerintah yang memfasilitasi inklusi. Anhui adalah satu propinsi yang miskin dengan penduduk 56 juta orang, dan untuk mencapai pendidikan untuk semua, mereka mengakui bahwa anak-anak penyandang cacat perlu diinklusikan. Pendidikan usia dini sudah diprioritaskan dan sistem pendidikan taman kanak-kanak berkembang dengan pesat, dan banyak di antaranya mempunyai lebih dari seribu orang siswa. Program perintis yang difokuskan pada reformasi pendidikan merupakan sistem yang sangat formal; anakanak usia tiga tahun sudah diajarkan untuk duduk rapi, dan sering kali jam pelajarannya panjang.

 

Pada awal tahun 1990-an, Laos mengalami reformasi sistem pendidikannya dengan memperkenalkan metode pengajaran yang aktif dan terfokus pada diri anak untuk meningkatkan kualitas tetapi biayanya tetap rendah, dalam upayanya untuk mendidik semua anak. Memberikan pendidikan kepada anak penyandang cacat merupakan bagian dari tujuan PUS tingkat nasional, dan program perintis pendidikan inklusi berhasil karena sepenuhnya dikaitkan dengan reformasi sistem.

“Reformasi metodologi mengajar dan pendidikan guru, disertai dengan kurikulum yang relevan… telah melancarkan jalan bagi integrasi.”

 

“Laos tidak memiliki sekolah khusus untuk anak penyandang cacat yang merupakan keuntungan yang sangat besar bagi Kementrian Pendidikan karena dengan demikian dapat membangun sistem yang menjangkau semua anak.” “Pengalaman Program pendidikan inklusi di Laos telah menunjukkan bahwa dengan perencanaan yang seksama, implementasi, monitoring dan dukungan yang tepat, dan dengan menggunakan semua sumber yang ada, dua tujuan sekaligus, yaitu meningkatkan kualitas pendidikan untuk semua dan mengintegrasikan anak penyandang cacat, dapat berjalan selaras. (Janet Holdsworth, Buletin EENET no. 2)

 

 

F.    Bedanya dengan Sekolah Inklusi:

 

Sekolah inklusi menerima semua anak tanpa memandang kemampuan, kecacatan,

gender, status HIV dan kesehatannya maupun latar belakang sosial, ekonomi, etnik,

agama ataupun bahasanya. Sekolah inklusi menerima keberagaman, tidak sekedar

mentoleransinya. Sekolah inklusi [sebagai sebuah sistem] beradaptasi dengan kebutuhan setiap anak. Anak belajar sesuai dengan kecepatannya masing-masing dan menurut kemampuannya masing-masing untuk mencapai perkembangan akademik, sosial, emosi dan fisiknya secara optimal. Anak penyandang cacat dan anak-anak berkebutuhan khusus lainnya serta para orang tua dan gurunya mempunyai akses ke sebuah sistem pendukung berbasis sekolah/masyarakat maupun sistem pendukung eksternal [tanpa biaya]. Sistem tersebut dirancang untuk secara efektif merespon kebutuhan yang mungkin dihadapi anak-anak tersebut.

 

Masyarakat inklusi dan sekolah inklusi mengakui bahwa inklusi menguntungkan semua anak – baik dengan maupun tanpa kecacatan dan kebutuhan khusus lainnya [saling memperkaya]. Mereka menyadari bahwa keberagaman di kalangan siswa-siswanya merupakan suatu asset yang akan memperkaya belajar bukannya menghambatnya. Oleh karena itu, inklusi akan menjadikan masyarakat dan sekolah lebih baik untuk semua anak maupun untuk orang tuanya dan guru-gurunya.

 

Suatu lingkungan yang inklusi, dan ramah terhadap pembelajaran [LIRP] adalah lingkungan yang menerima, merawat dan mendidik semua anak tanpa memandang perbedaan jenis kelamin, fisik, intelektual, sosial, emosional, linguistik atau karakteristik lainnya. Mereka bisa saja anak-anak yang cacat atau berbakat, anak

jalanan atau pekerja, anak dari orang-orang desa atau nomadik, anak dari minoritas budayanya atau etnisnya, linguistiknya, anakanak yang terjangkit HIV dan AIDS, atau anak-anak dari area atau kelompok yang lemah dan termaeginalisasi lainnya.

 

Satu konsep penting bahwa kita semua harus menerima bahwa “Semua Anak itu Berbeda” dan semua memiliki hak yang setara terhadap pendidikan walau bagaimanapun latar belakang atau kemampuannya. Banyak sekolah kita dan sistem

pendidikannya bergerak menuju “pendidikan inklusi” di mana anak dengan latar belakang dan kemampuan yang beragam dicari dan didorong untuk masuk sekolah

umum. Pada satu sisi kehadiran mereka di sekolah meningkatkan kesempatan untuk

belajar karena mereka dapat berinteraksi dengan anak lainnya. Memperbaiki pembelajaran mereka juga mendorong partisipasi mereka dalam keluarga dan kehidupan masyarakat. Pada sisi lain, anak yang berinteraksi dengan mereka juga memperoleh manfaat. Mereka belajar untuk menghargai dan menghormati kemampuan masing-masing – apapun keadaannya – juga belajar untuk sabar, toleransi dan pengertian. Mereka menyadari apa yang telah kita ketahui – bahwa setiap orang itu ”spesial”- dan bagian dari kehormatan untuk merangkul keberagaman serta menyambut perbedaan ini dengan penuh rasa syukur.

 

Bagi kita, sebagai guru, merangkul kebersamaan seperti itu pada siswa kita bukan tugas yang mudah. Sebagian dari kita mungkin mempunyai kelas yang besar dan sudah merasa bahwa kita terlalu banyak pekerjaan. Menginklusikan anak dengan latar belakang dan kemampuan yang beragam di kelas kita sering berarti lebih banyak pekerjaan, tetapi tidak perlu begitu. Yang harus kita lakukan adalah mengelola perbedaan di antara anak-anak kita dengan mengenali kekuatan dan kelemahan mereka, merencanakan pelajaran berdasarkan itu, menggunakan strategi pengajaran dan menyesuaikan kurikulum agar sesuai dengan kemampuan dan latar belakang tiap anak, dan yang paling penting, mengetahui bagaimana memobilisasi kolega kita, orangtua, anggota masyarakat dan para profesional lainnya agar membantu kita menyediakan pendidikan yang berkualitas baik untuk semua anak.

 

Pendidikan Inklusi tidak HANYA menyangkut inklusi penyandang cacat. Sebagaimana ditekankan dalam dokumen Jomtien, terdapat banyak kelompok yang rentan akan eksklusi dari pendidikan, dan inklusi pada esensinya adalah menciptakan sistem yang dapat mengakomodasi semua orang. Namun, demi alasan historis dan alasan lainnya (dibahas kemudian), inklusi penyandang cacat telah memberikan tantangan tertentu dan kesempatan untuk kebijakan dan praktek sistem pendidikan umum. Dokumen-dokumen selanjutnya yang spesifik mengenai penyandang cacat setelah dokumen Jomtien lebih jauh mengklarifikasi apa yang dimaksud dengan hak penyandang cacat atas pendidikan dalam prakteknya.

 

Beberapa konsep inti Pendidikan Inklusi  berdasarkan dokumen Salamanca, antara lain:

·         Anak-anak memiliki keberagaman yang luas dalam karakteristik dan kebutuhannya.

·         Perbedaan itu normal adanya.

·         Sekolah perlu mengakomodasi SEMUA anak.

·         Anak penyandang cacat seyogyanya bersekolah di lingkungan sekitar tempat tinggalnya.

·         Partisipasi masyarakat itu sangat penting bagi inklusi.

·         Pengajaran yang terpusat pada diri anak merupakan inti dari inklusi.

·         Kurikulum yang fleksibel seyogyanya disesuaikan dengan anak, bukan kebalikannya.

·         Inklusi memerlukan sumber-sumber dan dukungan yang tepat.

·         Inklusi itu penting bagi harga diri manusia dan pelaksanaan hak asasi manusia secara penuh.

·         Sekolah inklusi memberikan manfaat untuk SEMUA anak karena membantu menciptakan masyarakat yang inklusi.

·         Inklusi meningkatkan efisiensi dan efektivitas biaya pendidikan.

 

Satu paragraf dalam Pasal 2 memberikan argumen yang sangat baik untuk sekolah inklusi: “Sekolah reguler dengan orientasi inklusi merupakan cara yang paling efektif untuk memerangi sikap diskriminatif, menciptakan masyarakat yang terbuka, membangun suatu masyarakat inklusi dan mencapai pendidikan untuk semua; lebih dari itu, sekolah inklusi memberikan pendidikan yang efektif kepada mayoritas anak dan meningkatkan efisiensi sehingga menekan biaya untuk keseluruhan sistem pendidikan.”

 

Sedangkan dalam Kerangka Dakar juga dinyatakan:

“… untuk menarik perhatian dan mempertahankan anak-anak dari kelompok-kelompok termarjinalisasi dan terasing, sistem pendidikan harus merespon secara fleksibel … Sistem pendidikan harus inklusi, secara aktif mencari anak yang belum bersekolah dan merespon secara fleksibel terhadap keadaan dan kebutuhan

semua siswa” (penjelasan pada paragraf 33).

 

Jadi, bila suatu sekolah atau masyarakat melakukan upaya yang sungguh-sungguh untuk menginklusikan anak penyandang cacat dan berhasil, proses ini sering berfungsi sebagai cara untuk meningkatkan mutu sekolah. Guru harus terpusat pada anak, kurikulum harus fleksibel, masyarakat dan orang tua harus dilibatkan.

 

Pendidikan Inklusi:

·         Lebih luas daripada pendidikan formal: mencakup pendidikan di rumah, masyarakat, sistem nonformal dan informal.

·         Mengakui bahwa semua anak dapat belajar.

·         Memungkinkan struktur, sistem dan metodologi pendidikan memenuhi kebutuhan semua anak.

·         Mengakui dan menghargai berbagai perbedaan pada diri anak: usia, jender, etnik, bahasa, kecacatan, status HIV/AIDS dll.

·         Merupakan proses yang dinamis yang senantiasa berkembang sesuai dengan budaya dan konteksnya.

·         Merupakan bagian dari strategi yang lebih luas untuk mempromosikan masyarakat yang inklusi.

 

“Inklusi dalam pendidikan merupakan proses peningkatan partisipasi siswa dan mengurangi keterpisahannya dari budaya, kurikulum dan komunitas sekolah setempat.”

 

Inklusi juga melibatkan:

·         Restrukturisasi budaya, kebijakan dan praktek untuk merespon terhadap keberagaman siswa dalam lingkungannya;

·         pembelajaran dan partisipasi SEMUA anak yang rentan akan tekanan eksklusi (bukan hanya siswa penyandang cacat);

·         Meningkatkan mutu sekolah untuk stafnya maupun siswanya;

·         Mengatasi hambatan akses dan partisipasinya;

·         Hak siswa untuk dididik di dalam lingkungan masyarakatnya;

·         Memandang keberagaman sebagai kekayaan sumber, bukan sebagai masalah;

·         Saling memelihara hubungan antara sekolah dan masyarakat;

·         Memandang pendidikan inklusi sebagai satu aspek dari Masyarakat Inklusi.

·         Konsep inklusi dan eksklusi saling terkait “karena proses peningkatan partisipasi siswa menuntut adanya pengurangan tekanan untuk mempraktekkan eksklusi.”

 

Konsep-konsep Utama yang terkait dengan Pendidikan Inklusi

 

o   Konsep-konsep tentang anak

§  Semua anak berhak memperoleh pendidikan di dalam komunitasnya sendiri.

§  semua anak dapat belajar, dan siapapun dapat mengalami kesulitan dalam belajar.

§  semua anak membutuhkan dukungan untuk belajar.

§  pengajaran yang terfokus pada anak bermanfaat bagi SEMUA anak.

 

o   Konsep-konsep tentang sistem pendidikan dan persekolahan

§  Pendidikan lebih luas dari pada persekolahan formal

§  Sistem pendidikan yang fleksibel dan responsif

§  Lingkungan pendidikan yang memupuk kemampuan dan ramah

§  Peningkatan mutu sekolah – sekolah yang efektif

§  Pendekatan sekolah yang menyeluruh dan kolaborasi antarmitra.

 

o   Konsep-konsep tentang keberagaman dan diskriminasi

§  Memberantas diskriminasi dan tekanan untuk mempraktekkan eksklusi

§  Merespon/merangkul keberagaman sebagai sumber kekuatan, bukan masalah

§  Pendidikan inklusi mempersiapkan siswa untuk masyarakat yang menghargai dan menghormati perbedaan

 

o   Konsep-konsep tentang proses untuk mempromosikan inklusi

§  Mengidentifikasi dan mengatasi hambatan inklusi

§  Meningkatkan partisipasi nyata bagi semua orang

§  Kolaborasi, kemitraan

§  Metodologi partisipatori, Penelitian tindakan, penelitian kolaboratif

 

o   Konsep-konsep tentang sumber daya

§  Membuka jalan ke sumber daya setempat

§  Redistribusi sumber daya yang ada

§  Memandang orang (anak, orangtua, guru, anggota kelompok termarjinalisasi dll)  sebagai sumber daya utama

§  Sumber daya yang tepat yang terdapat di dalam sekolah dan pada tingkat lokal dibutuhkan untuk berbagai anak, misalnya Braille, alat asistif.

 

Dalam merencanakan pendidikan inklusi, tidak cukup dengan memahami konsepnya saja. Sebuah rencana juga harus realistis dan tepat. Dalam bab ini akan disajikan panduan untuk memastikan bahwa pendidikan inklusi dapat dipraktekkan dalam berbagai budaya dan konteks. Pengalaman pendidikan inklusi yang sukses menunjukkan bahwa ada 3 faktor penentu utama yang perlu diperhatikan agar implementasi pendidikan inklusi bertahan lama:

 

·         Adanya kerangka yang kuat – rangka: Pendidikan inklusi perlu didukung oleh kerangka nilai-nilai, keyakinan, prinsip-prinsip, dan indikator keberhasilan. Ini akan berkembang seiring dengan implementasinya dan tidak harus ‘disempurnakan’ sebelumnya. Tetapi jika pihak-pihak yang terlibat mempunyai konflik nilai-nilai dll., dan jika konflik tersebut tidak diselesaikan dan disadari, maka pendidikan inklusi akan mudah ambruk.

 

·         Implementasi berdasarkan budaya dan konteks lokal – ‘dagingnya’: Pendidikan inklusi bukan merupakan suatu cetak biru. Satu kesalahan utama adalah asumsi bahwa solusi yang diekspor dari suatu budaya/konteks dapat mengatasi permasalahan dalam budaya/konteks lain yang sama sekali berbeda. Lagi-lagi, berbagai pengalaman menunjukkan bahwa solusi harus dikembangkan secara lokal dengan memanfaatkan sumber-sumber daya lokal; jika tidak, solusi tersebut tidak akan bertahan lama.

 

·         Partisipasi yang berkesinambungan dan refleksi diri yang kritis – “darah kehidupannya”: Pendidikan inklusi tidak akan berhasil jika hanya merupakan struktur yang mati. pendidikan inklusi merupakan proses yang dinamis, dan agar pendidikan inklusi terus hidup, diperlukan adanya monitoring partisipatori yang berkesinambungan, yang melibatkan SEMUA stakeholder dalam refleksi diri yang kritis. Satu prinsip inti dari pendidikan inklusi adalah harus tangap terhadap keberagaman secara fleksibel, yang senantiasa berubah dan tidak dapat diprediksi. Jadi, pendidikan inklusi harus tetap hidup dan mengalir. Secara bersama-sama, ketiga faktor penentu utama tersebut (rangka, daging dan darah) memberntuk organisme hidup yang kuat, yang dapat beradaptasi dan tumbuh dalam budaya dan konteks lokal.

 

Seminar Agra menghasilkan kesimpulan berikut tentang potensi praktis pendidikan inklusi:

·         Pendidikan inklusi tidak terhambat oleh banyaknya jumlah siswa dalam satu kelas

·         Pendidikan inklusi tidak perlu terhambat oleh kurangnya sumber daya materi

·         Hambatan sikap terhadap inklusi jauh lebih besar daripada hambatan yang berupa kesulitan ekonomi

·         Tenaga ahli pendukung tidak harus tenaga tetap sekolah yang bersangkutan

·         Pendidikan inklusi dapat memberikan kesempatan untuk peningkatan mutu sekolah

·         Alumni penyandang cacat dan orang tuanya dapat berkontribusi banyak terhadap pendidikan inklusi

·         Pendidikan inklusi merupakan bagian dari pergerakan yang lebih besar menuju inklusi sosial.

 

Hambatan-hambatan belajar itu teridentifikasi sebagai:

·         Hambatan dalam kurikulum

·         Pusat pembelajaran

·         Sistem pendidikan

·         Konteks sosial yang lebih luas

·         Hambatan sebagai akibat dari kebutuhan siswa.

 

Pendekatan-pendekatan utama untuk mengatasi hambatan-hambatan tersebut:

·         Setiap pusat pembelajaran dilengkapi dengan struktur pendukung yang terdiri dari guru, tetapi juga dilengkapi dengan sumber daya masyarakat dan layanan tenaga ahli. Oleh karena itu pada hakikatnya berbasis masyarakat.

·         Adanya pusat dukungan lokal untuk memberikan pelatihan dan dukungan kepada guru, bukan kepada individu siswa pada umumnya.

·         Orang tua, guru, siswa (atau para pembelanya), dengan kata lain semua stakeholder utama, akan dilibatkan dalam manajemen, perencanaan kurikulum, pengembangan sistem pendukung, dan dalam proses belajar dan mengajar.

·         Kapasitas pendanaan, kepemimpinan dan manajemen dikembangkan dengan cara yang berkesinambungan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

G.   Kesimpulan

 

Berdasarkan uraian singkat di atas, setelah mencoba menyajikan tinjauan tentang situasi pendidikan inklusi pada saat ini, dengan rujukan khusus pada dunia  Asia yang secara ekonomi lebih miskin bila dibandingkan dengan negara Eropah. Pesan utama yang terkandung dalam makalah singkat ini dapat dirangkum sebagai berikut:

 

1.    Pendidikan inklusi bukan merupakan suatu strategi yang terpisah dari sistem pendidikan Nasional untuk dipergunakan dalam mendidik anak penyandang cacat.  Pendidikan inklusi merupakan sebuah proses dan tujuan yang menggambarkan kualitas atau karakteristik tertentu yang merupakan perwujudan dari PUS (Pendidikan untuk Semua). Pendidikan inklusi seyogyanya merupakan cara untuk mencapai PUS, dan PUS seyogyanya merupakan cara untuk mencapai inklusi.

 

2.    Pendidikan inklusi ditujukan untuk mengubah sistem sekolah, bukan untuk memberi label kepada individu atau kelompok anak tertentu ataupun untuk mengubahnya. Pendidikan Inlusi dilakukan dengan cara merespon keberagaman, dengan mengidentifikasi hambatan belajar yang dihadapi individu maupun kelompok anak.

3.    Pendidikan inklusi lebih luas daripada persekolahan. Orang cenderung berpikir bahwa pendidikan = sekolah, dan sekolah=struktur yang kaku, yang tidak dapat diubah. Jika demikian halnya, akan sulit bagi pendidikan inklusi untuk cocok dengan model tersebut. Di dalam masyarakat yang miskin, tidak adanya infrastruktur dan kurangnya sekolah dapat menjadi peluang untuk menciptakan pendidikan yang lebih terpusat pada diri anak dan lebih tepat, relevan dan inklusi. pendidikan inklusi menuntut kita untuk berpikir secara kreatif tentang cara melibatkan semua anak dalam satu sistem yang dapat mencakup sekolah, program nonformal, pendidikan berbasis rumah dan kelompok-kelompok kecil untuk belajar Bahasa Isyarat atau bahasa ibu, dan dapat melibatkan seluruh masyarakat secara penuh.

4.    Pendidikan inklusi merupakan bagian dari tujuan yang lebih luas untuk menciptakan suatu Masyarakat yang Inklusi. Pendidikan inklusi bukan hanya menyangkut metode dan sistem, tetapi menyangkut nilai-nilai dan keyakinan mendasar tentang pentingnya menghargai dan menghormati perbedaan, tidak mendiskriminasi, dan berkolaborasi dengan orang lain untuk menciptakan dunia yang lebih adil.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Referensi

Ainscow M (1991) Effective Schools for All London: Fulton

Ainscow and Booth (1998) From Them to Us London:Routledge

Ainscow M (2001) Understanding the Development of Inclusive Schools: Some Notes and Further Reading Paper available from EENET

Daunt P, in Mittler et at (1993) Special Needs Education London: Kogan Page

Graham Brown, S (1991) Education in the Developing World: Conflict and Crisis Harlow: Longman Group UK Ltd

Kisanji J (1993), in Mittler et at (1993) Special Needs Education London: Kogan Page Olusanya (1983) The Situation of Disabled Persons in Africa Economic Commission for Africa Pereira and Seabrook (1990) Asking the Earth: The Spread of Unsustainable Development London: Earthscan Publications

A Chance in Life: Principles and Practice in Basic Primary Education for Children (SCF 1998) Kimberley Ogadhoh & Marion Mofteno ISBN No: 1899120 69 6. Ini adalah buku kecil yang praktis bagi siapapun yang bekerja untuk meningkatkan peluang pendidikan bagi anak. Buku ini memperdebatkan sistem pendidikan inklusi dan perkembangannya. Tersedia dari SCF’s Publication Sales.

Kisanji, J (1998) Culture and Disability: An analysis of Inclusive Education Based on African Folklore. Makalah yang dipresentasikan pada the International Expert Meeting and Symposium on Local Concepts and Beliefs of Disability in Different

Cultures, Bonn, Germany.

Kisanji, J (1999) Models of Inclusive Education: Where do Community Based Support Programmes Fit In? Makalah dipresentasikan pada the Workshop on ‘Inclusive Education in Namibia: The Challenge for Teacher Education’, Windhoek, Namibia.


[1]Dr. Jamisten Situmorang, Widyaiswara di P4TK BMTI Bandung

About these ads


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: