10
Des
08

pendidikan inklusi

PENDIDIKAN INKLUSI DI INDONESIA

PELUANG DAN TANTANGAN

Dr. Jamisten Situmorang[1]

 

 

 

A.   Rasional

 

1.    Perhatian pemerintah Indonesia dalam bidang pendidikan dan lembaga-lembaga multilateral secara global saat ini adalah penurunan angka kemiskinan. Tujuan Pembangunan Milenium ditetapkan dalam Pertemuan Puncak Pembangunan Milenium PBB (September 2000) dan telah didukung oleh Bank Dunia dan 149 kepala negara. Ada dua hal yang menjadi tujuan pendidikan dalam pertemuan tersebut. Pertama adalah memberantas kemiskinan dan kelaparan dan mencapai pendidikan dasar universal (Pendidikan Untuk Semua [PUS] – Education For All). Kedua hal ini  sebenarnya beririsan atau saling berkaitan. Pendidikan diyakini sebagai instrumen untuk memberantas kemiskinan. Melalui PUS diprediksi kemiskinan dan kelaparan akan teratasi.

 

2.    Kerangka Aksi Dakar menekankan adanya hubungan yang erat antara pemberantasan kemiskinan dan pencapaian pendidikan untuk semua: Pasal 5 menyatakan, “Tanpa kemajuan yang pesat menuju pendidikan untuk semua, target yang disetujui secara nasional dan internasional untuk penurunan angka kemiskinan tidak akan tercapai dan ketidaksetaraan antara negara-negara dan di dalam masyarakat akan melebar. Sedangkan pada Pasal 6 dinyatakan bahwa: “Pendidikan merupakan kunci keberlangsungan pembangunan…”

 

3.    Implementasi PUS, semua anak seyogyanya memperoleh akses finansial, sosial dan fisik ke sekolah yang ada di lingkungannya; oleh karenanya, sekolah seyogyanya bebas biaya termasuk biaya terselubung [aksesibilitas finansial]; anak seyogyanya diterima tanpa memandang kemampuannya, kecacatannya, gendernya, status HIV dan kesehatannya maupun latar belakang sosial, ekonomi, etnik, agama ataupun bahasanya [aksesibilitas sosial]; dan sekolah seyogyanya memiliki aksesibilitas fisik bagi anak dengan maupun tanpa kecacatan (Sue Stubbs, 2002).

 

4.    Pendidikan untuk anak-anak dengan latar belakang dan kemampuan yang beragam tetap menjadi tantangan utama di wilayah Asia-Pasifik. Forum Pendidikan Dunia yang diadakan di Dakar, Senegal, April 2000 menentukan tujuan keduanya: “memastikan bahwa pada tahun 2015 semua anak, dengan penekanan khusus pada anak perempuan, anak dalam keadaan yang sulit dan anak dari etnis minoritas, memiliki akses terhadap pendidikan dasar yang wajib dan bebas biaya dengan kualitas yang baik”. Dengan melaksanakan tujuan ini berarti meningkatkan jumlah dan tingkat kelulusan anak di sekolah; menghilangkan bias di dalam sekolah, sistem pendidikan nasional dan kurikulum; dan menghilangkan diskriminasi sosial dan budaya yang membatasi tuntutan untuk pendidikan anak dengan latar belakang dan kemampuan yang beraneka ragam.

 

5.    Anak penyandang cacat’ termasuk anak penyandang cacat fisik, sensori atau intelektual, dan mereka yang seringkali termarjinalisasikan. Mereka adalah anak-anak yang terlahir cacat fisik atau psikis atau yang mendapatkan kecacatan kemudian karena penyakit, kecelakaan atau penyebab lainnya. Kecacatan bisa berarti bahwa anak akan mengalami kesulitan melihat, mendengar, bergerak dan menggunakan tangan kaki dan tubuhnya, dan mereka mungkin belajar lebih lambat dan dengan cara yang berbeda dibanding anak lain. Di banyak negara, tidak semua anak diidentifikasi sebagai penyandang cacat juga mempunyai kebutuhan pendidikan khusus dan begitu sebaliknya. Oleh karena itu, kedua kelompok ini tidak identik sama. Anak penyandang cacat mampu belajar dan mempunyai hak yang sama untuk bersekolah seperti layaknya anak lain tapi mereka seringkali dipisahkan dari sekolah di banyak negara di wilayah Asia Pasifik.

 

6.    Asumsi bahwa, semua guru profesional sebenarnya dapat mengajar anak yang berkebutuhan khusus. Makanya anak berkebutuhan khusus digabung dengan anak di sekolah umum (mainstream) daripada menyekolahkan mereka di sekolah luar biasa atau sekolah khusus (di Malaysia disebut pendidikan khas). Bahkan di Belanda ada istilah “All of us in school together again.  Ini pada prinsipnya yang mendasari  pendidikan inklusi.

 

7.     Ketidaksetaraan dalam pendidikan tetap menjadi kekhawatiran dan perhatian bagi semua negara, namun diskriminasi tetap menyebar di sekolah dan sistem pendidikan. Untuk menjembatani jarak ini, sangat penting menumbuhkan kesadaran pada guru dan administrator pendidikan tentang pentingnya pendidikan inklusi. Sama pentingnya juga untuk memberikan alat-alat praktis kepada mereka, yang diperlukan untuk menganalisa situasi mereka dan memastikan bahwa semua anak bersekolah dan belajar dengan kapasitas mereka sepenuhnya dan memastikan kesetaraan terjadi di dalam kelas, dalam bahan pembelajaran, dalam proses belajar dan mengajar, dalam kebijakan sekolah dan dalam memonitor hasil belajar.

 

8.     Hak atas Pendidikan Inklusi yang paling jelas telah dinyatakan dalam Pernyataan Salamanca dan Kerangka Aksi yang menekankan bahwa sekolah membutuhkan perubahan dan penyesuaian. Pentingnya penggalangan sumber-sumber yang tepat untuk inklusi dinyatakan dalam Peraturan Standar PBB. Baru-baru ini, implementasi instrumen-instrumen PBB tersebut telah dievaluasi oleh sejumlah LSM internasional yang menyatakan bahwa Pendidikan untuk Semua belum terlaksana dan tidak akan terlaksana kecuali adanya partisipasi di tingkat akar rumput dan adanya alokasi seumber-sumber secara nyata. Penurunan angka kemiskinan merupakan prioritas donor akhir-akhir ini, dan ada pengakuan bahwa PUS dan Pendidikan Inklusi tidak akan berjalan kecuali langkah-langkah yang berkesinambungan dilakukan untuk mengurangi kemiskinan.

 

 

 

 

B.   Landasan Hukum

 

Dokumen Internasional yang relevan dengan Pendidikan Inklusi:

1. 1948: Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia

2. 1989: Konvensi PBB tentang Hak Anak

3. 1990: Deklarasi Dunia tentang Pendidikan untuk Semua, Jomtien

4. 1993: Peraturan Standar tentang Persamaan Kesempatan bagi para Penyandang Cacat

5. 1994: Pernyataan Salamanca dan Kerangka Aksi tentang Pendidikan Kebutuhan Khusus

6. 1999: Tinjauan 5 tahun Salamanca

7. 2000: Kerangka Aksi Forum Pendidikan Dunia, Dakar

8. 2000: Tujuan Pembangunan Millenium yang berfokus pada Penurunan Angka Kemiskinan dan Pembangunan

9. 2001: Flagship PUS tentang Pendidikan dan Kecacatan

 

 

C.   Tujuan

 

Tujuan penulis makalah ini untuk memberikan suatu tinjauan terhadap masalah utama, konsep dan strategi yang berkaitan dengan Pendidikan Inklusi, yang difokuskan pada situasi di mana sumber ekonomi dan akses terhadap informasi terbatas. Beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan pendidikan inklusi yang hendak jawab dalam makalah singkat ini, antara lain:

 

1.    Apakah pendidikan inklusi dimaksudkan untuk  menginklusikan semua kelompok anak atau hanya menginklusikan anak-anak penyandang cacat?

2.    Apakah pendidikan inklusi merupakan prioritas di Indonesia?

3.    Bagaimanakah kaitan  pendidikan inklusi dengan persoalan yang dihadapi pendidikan seperti tingkat putus sekolah, kualitas pendidikan, penyekolahan anak perempuan, kurikulum yang kaku, kurangnya sumber-sumber?

4.    Apakah pendidikan inklusi dimaksudkan untuk mendidik SEMUA anak dari komunitas tertentu di dalam suatu bangunan sekolah yang sama?

5.    Apakah Pendidikan Inklusi sama dengan sekolah Inklusi?

6.    Apakah perbedaan antara Pendidikan Inklusi, Pendidikan Integrasi dan Pendidikan Luar Biasa?

7.    Apakah pendidikan inklusi tepat untuk anak penyandang cacat berat dan mereka yang tunarungu atau buta/tuli?

8.    Apakah ada cara yang “tepat” untuk melaksanakan pendidikan inklusi?

9.    Apakah ada rencana yang jelas yang dapat kita ikuti?

10. Apakah pendidikan inklusi benar-benar praktis, khususnya di negara-negara yang sumber-sumbernya terbatas dan tantangannya banyak?

 

 

 

D.   Bagaimana pendidikan inklusi dilaksanakan?

Tidak ada cara  yang mujarab, ampuh, spesial atau ilmu pendidikan yang bersifat “magis” dalam mengintegrasikan anak berkebutuhan khusus ke sekolah umum. Namun demikian, pergerakan menuju pendidikan inklusi dalam sekolah baik dilihat dalam teori maupun dalam praktiknya membutuhkan perubahan.Pada awalnya, inklusi membutuhkan format belajar yang berbeda, metode yang berbeda, dalam mengelompokkan anak dan dalam kegiatan pembelajaran pun dibedakan. Bahkan pada saat membuat perencanaan pembelajaran, hasil yang hendak dicapai pun dibuat berbeda. Elizabeth Burgwin  dari UK merupakan salah seorang pionir pendidikan inklusi. Burgwin, misalnya tertarik untuk menemukan cara menggabungkan anak-anak yang cacat ke dalam sekolah biasa (normal)dengan cara menyesuaikan dengan lingkungan. Walaupun sampai sekarang penyesuaian terhadap lingkungan fisik tersebut masih tetap masalah, tergantung ketersediaan uang untuk membangun fasilitas yag diperlukan. Selain itu, kepemimpinan kepala sekolah, termasuk komitmennya untuk menerima anak cacat di sekolah tersebut. Bahkan masyarakat lokal yang merupakan stakeholder sekolah tersebut juga berpengaruh terciptanya pendidikan inklusi.

 

‘Siswa dengan kebutuhan belajar atau pendidikan khusus’ berarti anak yang memerlukan perhatian khusus untuk membantu pembelajarannya. Di kebanyakan negara, perhatian ini diberikan di sekolah atau kelas khusus [SLB] atau sekolah/kelas reguler. Banyak negara memberikan label kelompok siswa yang berbeda sebagai ‘yang mempunyai kebutuhan pendidikan khusus’ yang menempatkan mereka secara terpisah dari siswa reguler. Oleh karena itu, ketika muncul dalam Perangkat ini, istilah ini mengakui adanya praktek pelabelan ini. Namun, ini TIDAK menganggap bahwa terdapat perbedaan pendidikan yang sebenarnya antara siswa berkebutuhan pendidikan atau pembelajaran khusus dan siswa reguler.

 

 

Pendidikan Inklusi didasarkan pada hak asasi dan model sosial; sistem yang harus disesuaikan dengan anak, bukan anak yang menyesuaikan diri dengan sistem. Pelajaran yang dapat diambil dari negara-negara kurang mampu di Selatan menekankan bahwa pendidikan inklusi bukan hanya mengenai sekolah tetapi lebih luas dan mencakup inisiatif dan keterlibatan masyarakat luas. Pendidikan inklusi dapat dipandang sebagai pergerakan yang menjunjung tinggi nilai-nilai, keyakinan

dan prinsip-prinsip utama yang berkaitan dengan anak, pendidikan, keberagaman dan diskriminasi, proses partisipasi dan sumbersumber yang tersedia. Banyak di antara hal tersebut merupakan tantangan terhadap status quo, tetapi penting jika masyarakat dan pembangunan secara keseluruhan ingin menjadi inklusi dan

memberikan manfaat kepada semua warganya.

 

 

Pendidikan inklusi merupakan suatu strategi untuk mempromosikan pendidikan universal yang efektif karena dapat menciptakan sekolah yang responsif terhadap beragam kebutuhan aktual dari anak dan masyarakat. Pendidikan inklusi menjamin akses dan kualitas.

 

·         Semua anak, termasuk anak penyandang cacat, berhak atas pendidikan.

·         Adanya komitmen untuk menemukan cara membantu anak yang belajar dengan cara dan kecepatan yang berbeda-beda agar benar-benar dapat belajar.

·         Mempromosikan perkembangan potensi individu anak secara holistik: secara fisik, linguistik, sosial, kognitif, sensori.

·         Mendukung bermacam-macam metoda komunikasi untuk penyandang berbagai kecacatan (Bahasa isyarat, Braille, papan tanda, bicara dengan bantuan komputer, Makaton, dll).

 

 

 

‘Pendidikan Inklusi’ atau ‘pembelajaran inklusi’ mengacu pada inklusi dan pengajaran SEMUA anak dalam lingkungan belajar formal atau non-formal tanpa mempertimbangkan gender, intelektual, sosial, emosi, linguistik, budaya, agama atau karakteristik lainnya.

 

Beberapa contoh tersebut meliputi:

·         Anak penyandang kecacatan intelektual diinklusikan dalam sistem pendidikan  umum di TK, pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi (Inggris).

·         Anak penyandang cacat diinklusikan di sekolah dengan jumlah anak lebih dari 100 orang per kelas (Lesotho)

·         Anak penyandang cacat diinklusikan di sekolah-sekolah di lingkungan masyarakat termiskin di dunia (Douentza, Mali).

·         Transformasi sistem yang kaku menjadi metodologi yang fleksibel yang berfokus pada diri anak (Cina)

·         Peningkatan mutu sekolah yang mengarah pada pendidikan inklusi dalam level pelatihan guru (Laos)

 

Pendidikan luar biasa berasumsi bahwa terdapat kelompok anak yang terpisah yang memiliki ‘kebutuhan pendidikan khusus’ dan seringkali disebut ‘anak berkebutuhan khusus’.

 

ASUMSI INI TIDAK BENAR karena:

·         Anak manapun dapat mengalami kesulitan dalam belajar

·         Banyak anak penyandang cacat tidak memiliki masalah dalam belajar, hanya mengalami masalah dalam aksesnya, namun mereka masih diberi label ‘anak berkebutuhan khusus’

·         Anak yang memiliki kecacatan intelektual seringkali dapat belajar dengan sangat baik dalam bidang tertentu atau pada tahap tertentu dalam hidupnya.

 

 

Tercapainya pendidikan dasar universal tidak hanya ditandai dengan masuknya anak secara secara fisik ke sekolah; agar pendidikan dapat menciptakan perubahan, pendidikan harus relevan dan efektif. Tujuan ini tidak akan tercapai kecuali anak dan orang dewasa penyandang cacat secara spesifik ditargetkan dan dilibatkan karena mereka merupakan unsur masyarakat termiskin di kalangan yang miskin.

 

 

 

E.   Best Practice Pendidikan Inklusi

 

Propinsi Anhui di Cina merupakan contoh yang baik untuk kebijakan pemerintah yang memfasilitasi inklusi. Anhui adalah satu propinsi yang miskin dengan penduduk 56 juta orang, dan untuk mencapai pendidikan untuk semua, mereka mengakui bahwa anak-anak penyandang cacat perlu diinklusikan. Pendidikan usia dini sudah diprioritaskan dan sistem pendidikan taman kanak-kanak berkembang dengan pesat, dan banyak di antaranya mempunyai lebih dari seribu orang siswa. Program perintis yang difokuskan pada reformasi pendidikan merupakan sistem yang sangat formal; anakanak usia tiga tahun sudah diajarkan untuk duduk rapi, dan sering kali jam pelajarannya panjang.

 

Pada awal tahun 1990-an, Laos mengalami reformasi sistem pendidikannya dengan memperkenalkan metode pengajaran yang aktif dan terfokus pada diri anak untuk meningkatkan kualitas tetapi biayanya tetap rendah, dalam upayanya untuk mendidik semua anak. Memberikan pendidikan kepada anak penyandang cacat merupakan bagian dari tujuan PUS tingkat nasional, dan program perintis pendidikan inklusi berhasil karena sepenuhnya dikaitkan dengan reformasi sistem.

“Reformasi metodologi mengajar dan pendidikan guru, disertai dengan kurikulum yang relevan… telah melancarkan jalan bagi integrasi.”

 

“Laos tidak memiliki sekolah khusus untuk anak penyandang cacat yang merupakan keuntungan yang sangat besar bagi Kementrian Pendidikan karena dengan demikian dapat membangun sistem yang menjangkau semua anak.” “Pengalaman Program pendidikan inklusi di Laos telah menunjukkan bahwa dengan perencanaan yang seksama, implementasi, monitoring dan dukungan yang tepat, dan dengan menggunakan semua sumber yang ada, dua tujuan sekaligus, yaitu meningkatkan kualitas pendidikan untuk semua dan mengintegrasikan anak penyandang cacat, dapat berjalan selaras. (Janet Holdsworth, Buletin EENET no. 2)

 

 

F.    Bedanya dengan Sekolah Inklusi:

 

Sekolah inklusi menerima semua anak tanpa memandang kemampuan, kecacatan,

gender, status HIV dan kesehatannya maupun latar belakang sosial, ekonomi, etnik,

agama ataupun bahasanya. Sekolah inklusi menerima keberagaman, tidak sekedar

mentoleransinya. Sekolah inklusi [sebagai sebuah sistem] beradaptasi dengan kebutuhan setiap anak. Anak belajar sesuai dengan kecepatannya masing-masing dan menurut kemampuannya masing-masing untuk mencapai perkembangan akademik, sosial, emosi dan fisiknya secara optimal. Anak penyandang cacat dan anak-anak berkebutuhan khusus lainnya serta para orang tua dan gurunya mempunyai akses ke sebuah sistem pendukung berbasis sekolah/masyarakat maupun sistem pendukung eksternal [tanpa biaya]. Sistem tersebut dirancang untuk secara efektif merespon kebutuhan yang mungkin dihadapi anak-anak tersebut.

 

Masyarakat inklusi dan sekolah inklusi mengakui bahwa inklusi menguntungkan semua anak – baik dengan maupun tanpa kecacatan dan kebutuhan khusus lainnya [saling memperkaya]. Mereka menyadari bahwa keberagaman di kalangan siswa-siswanya merupakan suatu asset yang akan memperkaya belajar bukannya menghambatnya. Oleh karena itu, inklusi akan menjadikan masyarakat dan sekolah lebih baik untuk semua anak maupun untuk orang tuanya dan guru-gurunya.

 

Suatu lingkungan yang inklusi, dan ramah terhadap pembelajaran [LIRP] adalah lingkungan yang menerima, merawat dan mendidik semua anak tanpa memandang perbedaan jenis kelamin, fisik, intelektual, sosial, emosional, linguistik atau karakteristik lainnya. Mereka bisa saja anak-anak yang cacat atau berbakat, anak

jalanan atau pekerja, anak dari orang-orang desa atau nomadik, anak dari minoritas budayanya atau etnisnya, linguistiknya, anakanak yang terjangkit HIV dan AIDS, atau anak-anak dari area atau kelompok yang lemah dan termaeginalisasi lainnya.

 

Satu konsep penting bahwa kita semua harus menerima bahwa “Semua Anak itu Berbeda” dan semua memiliki hak yang setara terhadap pendidikan walau bagaimanapun latar belakang atau kemampuannya. Banyak sekolah kita dan sistem

pendidikannya bergerak menuju “pendidikan inklusi” di mana anak dengan latar belakang dan kemampuan yang beragam dicari dan didorong untuk masuk sekolah

umum. Pada satu sisi kehadiran mereka di sekolah meningkatkan kesempatan untuk

belajar karena mereka dapat berinteraksi dengan anak lainnya. Memperbaiki pembelajaran mereka juga mendorong partisipasi mereka dalam keluarga dan kehidupan masyarakat. Pada sisi lain, anak yang berinteraksi dengan mereka juga memperoleh manfaat. Mereka belajar untuk menghargai dan menghormati kemampuan masing-masing – apapun keadaannya – juga belajar untuk sabar, toleransi dan pengertian. Mereka menyadari apa yang telah kita ketahui – bahwa setiap orang itu ”spesial”- dan bagian dari kehormatan untuk merangkul keberagaman serta menyambut perbedaan ini dengan penuh rasa syukur.

 

Bagi kita, sebagai guru, merangkul kebersamaan seperti itu pada siswa kita bukan tugas yang mudah. Sebagian dari kita mungkin mempunyai kelas yang besar dan sudah merasa bahwa kita terlalu banyak pekerjaan. Menginklusikan anak dengan latar belakang dan kemampuan yang beragam di kelas kita sering berarti lebih banyak pekerjaan, tetapi tidak perlu begitu. Yang harus kita lakukan adalah mengelola perbedaan di antara anak-anak kita dengan mengenali kekuatan dan kelemahan mereka, merencanakan pelajaran berdasarkan itu, menggunakan strategi pengajaran dan menyesuaikan kurikulum agar sesuai dengan kemampuan dan latar belakang tiap anak, dan yang paling penting, mengetahui bagaimana memobilisasi kolega kita, orangtua, anggota masyarakat dan para profesional lainnya agar membantu kita menyediakan pendidikan yang berkualitas baik untuk semua anak.

 

Pendidikan Inklusi tidak HANYA menyangkut inklusi penyandang cacat. Sebagaimana ditekankan dalam dokumen Jomtien, terdapat banyak kelompok yang rentan akan eksklusi dari pendidikan, dan inklusi pada esensinya adalah menciptakan sistem yang dapat mengakomodasi semua orang. Namun, demi alasan historis dan alasan lainnya (dibahas kemudian), inklusi penyandang cacat telah memberikan tantangan tertentu dan kesempatan untuk kebijakan dan praktek sistem pendidikan umum. Dokumen-dokumen selanjutnya yang spesifik mengenai penyandang cacat setelah dokumen Jomtien lebih jauh mengklarifikasi apa yang dimaksud dengan hak penyandang cacat atas pendidikan dalam prakteknya.

 

Beberapa konsep inti Pendidikan Inklusi  berdasarkan dokumen Salamanca, antara lain:

·         Anak-anak memiliki keberagaman yang luas dalam karakteristik dan kebutuhannya.

·         Perbedaan itu normal adanya.

·         Sekolah perlu mengakomodasi SEMUA anak.

·         Anak penyandang cacat seyogyanya bersekolah di lingkungan sekitar tempat tinggalnya.

·         Partisipasi masyarakat itu sangat penting bagi inklusi.

·         Pengajaran yang terpusat pada diri anak merupakan inti dari inklusi.

·         Kurikulum yang fleksibel seyogyanya disesuaikan dengan anak, bukan kebalikannya.

·         Inklusi memerlukan sumber-sumber dan dukungan yang tepat.

·         Inklusi itu penting bagi harga diri manusia dan pelaksanaan hak asasi manusia secara penuh.

·         Sekolah inklusi memberikan manfaat untuk SEMUA anak karena membantu menciptakan masyarakat yang inklusi.

·         Inklusi meningkatkan efisiensi dan efektivitas biaya pendidikan.

 

Satu paragraf dalam Pasal 2 memberikan argumen yang sangat baik untuk sekolah inklusi: “Sekolah reguler dengan orientasi inklusi merupakan cara yang paling efektif untuk memerangi sikap diskriminatif, menciptakan masyarakat yang terbuka, membangun suatu masyarakat inklusi dan mencapai pendidikan untuk semua; lebih dari itu, sekolah inklusi memberikan pendidikan yang efektif kepada mayoritas anak dan meningkatkan efisiensi sehingga menekan biaya untuk keseluruhan sistem pendidikan.”

 

Sedangkan dalam Kerangka Dakar juga dinyatakan:

“… untuk menarik perhatian dan mempertahankan anak-anak dari kelompok-kelompok termarjinalisasi dan terasing, sistem pendidikan harus merespon secara fleksibel … Sistem pendidikan harus inklusi, secara aktif mencari anak yang belum bersekolah dan merespon secara fleksibel terhadap keadaan dan kebutuhan

semua siswa” (penjelasan pada paragraf 33).

 

Jadi, bila suatu sekolah atau masyarakat melakukan upaya yang sungguh-sungguh untuk menginklusikan anak penyandang cacat dan berhasil, proses ini sering berfungsi sebagai cara untuk meningkatkan mutu sekolah. Guru harus terpusat pada anak, kurikulum harus fleksibel, masyarakat dan orang tua harus dilibatkan.

 

Pendidikan Inklusi:

·         Lebih luas daripada pendidikan formal: mencakup pendidikan di rumah, masyarakat, sistem nonformal dan informal.

·         Mengakui bahwa semua anak dapat belajar.

·         Memungkinkan struktur, sistem dan metodologi pendidikan memenuhi kebutuhan semua anak.

·         Mengakui dan menghargai berbagai perbedaan pada diri anak: usia, jender, etnik, bahasa, kecacatan, status HIV/AIDS dll.

·         Merupakan proses yang dinamis yang senantiasa berkembang sesuai dengan budaya dan konteksnya.

·         Merupakan bagian dari strategi yang lebih luas untuk mempromosikan masyarakat yang inklusi.

 

“Inklusi dalam pendidikan merupakan proses peningkatan partisipasi siswa dan mengurangi keterpisahannya dari budaya, kurikulum dan komunitas sekolah setempat.”

 

Inklusi juga melibatkan:

·         Restrukturisasi budaya, kebijakan dan praktek untuk merespon terhadap keberagaman siswa dalam lingkungannya;

·         pembelajaran dan partisipasi SEMUA anak yang rentan akan tekanan eksklusi (bukan hanya siswa penyandang cacat);

·         Meningkatkan mutu sekolah untuk stafnya maupun siswanya;

·         Mengatasi hambatan akses dan partisipasinya;

·         Hak siswa untuk dididik di dalam lingkungan masyarakatnya;

·         Memandang keberagaman sebagai kekayaan sumber, bukan sebagai masalah;

·         Saling memelihara hubungan antara sekolah dan masyarakat;

·         Memandang pendidikan inklusi sebagai satu aspek dari Masyarakat Inklusi.

·         Konsep inklusi dan eksklusi saling terkait “karena proses peningkatan partisipasi siswa menuntut adanya pengurangan tekanan untuk mempraktekkan eksklusi.”

 

Konsep-konsep Utama yang terkait dengan Pendidikan Inklusi

 

o   Konsep-konsep tentang anak

§  Semua anak berhak memperoleh pendidikan di dalam komunitasnya sendiri.

§  semua anak dapat belajar, dan siapapun dapat mengalami kesulitan dalam belajar.

§  semua anak membutuhkan dukungan untuk belajar.

§  pengajaran yang terfokus pada anak bermanfaat bagi SEMUA anak.

 

o   Konsep-konsep tentang sistem pendidikan dan persekolahan

§  Pendidikan lebih luas dari pada persekolahan formal

§  Sistem pendidikan yang fleksibel dan responsif

§  Lingkungan pendidikan yang memupuk kemampuan dan ramah

§  Peningkatan mutu sekolah – sekolah yang efektif

§  Pendekatan sekolah yang menyeluruh dan kolaborasi antarmitra.

 

o   Konsep-konsep tentang keberagaman dan diskriminasi

§  Memberantas diskriminasi dan tekanan untuk mempraktekkan eksklusi

§  Merespon/merangkul keberagaman sebagai sumber kekuatan, bukan masalah

§  Pendidikan inklusi mempersiapkan siswa untuk masyarakat yang menghargai dan menghormati perbedaan

 

o   Konsep-konsep tentang proses untuk mempromosikan inklusi

§  Mengidentifikasi dan mengatasi hambatan inklusi

§  Meningkatkan partisipasi nyata bagi semua orang

§  Kolaborasi, kemitraan

§  Metodologi partisipatori, Penelitian tindakan, penelitian kolaboratif

 

o   Konsep-konsep tentang sumber daya

§  Membuka jalan ke sumber daya setempat

§  Redistribusi sumber daya yang ada

§  Memandang orang (anak, orangtua, guru, anggota kelompok termarjinalisasi dll)  sebagai sumber daya utama

§  Sumber daya yang tepat yang terdapat di dalam sekolah dan pada tingkat lokal dibutuhkan untuk berbagai anak, misalnya Braille, alat asistif.

 

Dalam merencanakan pendidikan inklusi, tidak cukup dengan memahami konsepnya saja. Sebuah rencana juga harus realistis dan tepat. Dalam bab ini akan disajikan panduan untuk memastikan bahwa pendidikan inklusi dapat dipraktekkan dalam berbagai budaya dan konteks. Pengalaman pendidikan inklusi yang sukses menunjukkan bahwa ada 3 faktor penentu utama yang perlu diperhatikan agar implementasi pendidikan inklusi bertahan lama:

 

·         Adanya kerangka yang kuat – rangka: Pendidikan inklusi perlu didukung oleh kerangka nilai-nilai, keyakinan, prinsip-prinsip, dan indikator keberhasilan. Ini akan berkembang seiring dengan implementasinya dan tidak harus ‘disempurnakan’ sebelumnya. Tetapi jika pihak-pihak yang terlibat mempunyai konflik nilai-nilai dll., dan jika konflik tersebut tidak diselesaikan dan disadari, maka pendidikan inklusi akan mudah ambruk.

 

·         Implementasi berdasarkan budaya dan konteks lokal – ‘dagingnya’: Pendidikan inklusi bukan merupakan suatu cetak biru. Satu kesalahan utama adalah asumsi bahwa solusi yang diekspor dari suatu budaya/konteks dapat mengatasi permasalahan dalam budaya/konteks lain yang sama sekali berbeda. Lagi-lagi, berbagai pengalaman menunjukkan bahwa solusi harus dikembangkan secara lokal dengan memanfaatkan sumber-sumber daya lokal; jika tidak, solusi tersebut tidak akan bertahan lama.

 

·         Partisipasi yang berkesinambungan dan refleksi diri yang kritis – “darah kehidupannya”: Pendidikan inklusi tidak akan berhasil jika hanya merupakan struktur yang mati. pendidikan inklusi merupakan proses yang dinamis, dan agar pendidikan inklusi terus hidup, diperlukan adanya monitoring partisipatori yang berkesinambungan, yang melibatkan SEMUA stakeholder dalam refleksi diri yang kritis. Satu prinsip inti dari pendidikan inklusi adalah harus tangap terhadap keberagaman secara fleksibel, yang senantiasa berubah dan tidak dapat diprediksi. Jadi, pendidikan inklusi harus tetap hidup dan mengalir. Secara bersama-sama, ketiga faktor penentu utama tersebut (rangka, daging dan darah) memberntuk organisme hidup yang kuat, yang dapat beradaptasi dan tumbuh dalam budaya dan konteks lokal.

 

Seminar Agra menghasilkan kesimpulan berikut tentang potensi praktis pendidikan inklusi:

·         Pendidikan inklusi tidak terhambat oleh banyaknya jumlah siswa dalam satu kelas

·         Pendidikan inklusi tidak perlu terhambat oleh kurangnya sumber daya materi

·         Hambatan sikap terhadap inklusi jauh lebih besar daripada hambatan yang berupa kesulitan ekonomi

·         Tenaga ahli pendukung tidak harus tenaga tetap sekolah yang bersangkutan

·         Pendidikan inklusi dapat memberikan kesempatan untuk peningkatan mutu sekolah

·         Alumni penyandang cacat dan orang tuanya dapat berkontribusi banyak terhadap pendidikan inklusi

·         Pendidikan inklusi merupakan bagian dari pergerakan yang lebih besar menuju inklusi sosial.

 

Hambatan-hambatan belajar itu teridentifikasi sebagai:

·         Hambatan dalam kurikulum

·         Pusat pembelajaran

·         Sistem pendidikan

·         Konteks sosial yang lebih luas

·         Hambatan sebagai akibat dari kebutuhan siswa.

 

Pendekatan-pendekatan utama untuk mengatasi hambatan-hambatan tersebut:

·         Setiap pusat pembelajaran dilengkapi dengan struktur pendukung yang terdiri dari guru, tetapi juga dilengkapi dengan sumber daya masyarakat dan layanan tenaga ahli. Oleh karena itu pada hakikatnya berbasis masyarakat.

·         Adanya pusat dukungan lokal untuk memberikan pelatihan dan dukungan kepada guru, bukan kepada individu siswa pada umumnya.

·         Orang tua, guru, siswa (atau para pembelanya), dengan kata lain semua stakeholder utama, akan dilibatkan dalam manajemen, perencanaan kurikulum, pengembangan sistem pendukung, dan dalam proses belajar dan mengajar.

·         Kapasitas pendanaan, kepemimpinan dan manajemen dikembangkan dengan cara yang berkesinambungan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

G.   Kesimpulan

 

Berdasarkan uraian singkat di atas, setelah mencoba menyajikan tinjauan tentang situasi pendidikan inklusi pada saat ini, dengan rujukan khusus pada dunia  Asia yang secara ekonomi lebih miskin bila dibandingkan dengan negara Eropah. Pesan utama yang terkandung dalam makalah singkat ini dapat dirangkum sebagai berikut:

 

1.    Pendidikan inklusi bukan merupakan suatu strategi yang terpisah dari sistem pendidikan Nasional untuk dipergunakan dalam mendidik anak penyandang cacat.  Pendidikan inklusi merupakan sebuah proses dan tujuan yang menggambarkan kualitas atau karakteristik tertentu yang merupakan perwujudan dari PUS (Pendidikan untuk Semua). Pendidikan inklusi seyogyanya merupakan cara untuk mencapai PUS, dan PUS seyogyanya merupakan cara untuk mencapai inklusi.

 

2.    Pendidikan inklusi ditujukan untuk mengubah sistem sekolah, bukan untuk memberi label kepada individu atau kelompok anak tertentu ataupun untuk mengubahnya. Pendidikan Inlusi dilakukan dengan cara merespon keberagaman, dengan mengidentifikasi hambatan belajar yang dihadapi individu maupun kelompok anak.

3.    Pendidikan inklusi lebih luas daripada persekolahan. Orang cenderung berpikir bahwa pendidikan = sekolah, dan sekolah=struktur yang kaku, yang tidak dapat diubah. Jika demikian halnya, akan sulit bagi pendidikan inklusi untuk cocok dengan model tersebut. Di dalam masyarakat yang miskin, tidak adanya infrastruktur dan kurangnya sekolah dapat menjadi peluang untuk menciptakan pendidikan yang lebih terpusat pada diri anak dan lebih tepat, relevan dan inklusi. pendidikan inklusi menuntut kita untuk berpikir secara kreatif tentang cara melibatkan semua anak dalam satu sistem yang dapat mencakup sekolah, program nonformal, pendidikan berbasis rumah dan kelompok-kelompok kecil untuk belajar Bahasa Isyarat atau bahasa ibu, dan dapat melibatkan seluruh masyarakat secara penuh.

4.    Pendidikan inklusi merupakan bagian dari tujuan yang lebih luas untuk menciptakan suatu Masyarakat yang Inklusi. Pendidikan inklusi bukan hanya menyangkut metode dan sistem, tetapi menyangkut nilai-nilai dan keyakinan mendasar tentang pentingnya menghargai dan menghormati perbedaan, tidak mendiskriminasi, dan berkolaborasi dengan orang lain untuk menciptakan dunia yang lebih adil.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Referensi

Ainscow M (1991) Effective Schools for All London: Fulton

Ainscow and Booth (1998) From Them to Us London:Routledge

Ainscow M (2001) Understanding the Development of Inclusive Schools: Some Notes and Further Reading Paper available from EENET

Daunt P, in Mittler et at (1993) Special Needs Education London: Kogan Page

Graham Brown, S (1991) Education in the Developing World: Conflict and Crisis Harlow: Longman Group UK Ltd

Kisanji J (1993), in Mittler et at (1993) Special Needs Education London: Kogan Page Olusanya (1983) The Situation of Disabled Persons in Africa Economic Commission for Africa Pereira and Seabrook (1990) Asking the Earth: The Spread of Unsustainable Development London: Earthscan Publications

A Chance in Life: Principles and Practice in Basic Primary Education for Children (SCF 1998) Kimberley Ogadhoh & Marion Mofteno ISBN No: 1899120 69 6. Ini adalah buku kecil yang praktis bagi siapapun yang bekerja untuk meningkatkan peluang pendidikan bagi anak. Buku ini memperdebatkan sistem pendidikan inklusi dan perkembangannya. Tersedia dari SCF’s Publication Sales.

Kisanji, J (1998) Culture and Disability: An analysis of Inclusive Education Based on African Folklore. Makalah yang dipresentasikan pada the International Expert Meeting and Symposium on Local Concepts and Beliefs of Disability in Different

Cultures, Bonn, Germany.

Kisanji, J (1999) Models of Inclusive Education: Where do Community Based Support Programmes Fit In? Makalah dipresentasikan pada the Workshop on ‘Inclusive Education in Namibia: The Challenge for Teacher Education’, Windhoek, Namibia.


[1]Dr. Jamisten Situmorang, Widyaiswara di P4TK BMTI Bandung

10
Des
08

Apa yang salah dalam pendidikan kita?

Kalau dilihat dari perjuangan pemerintah Indonesia untuk meningkatkan kualitas pendidikan Nasional, kerja keras, peningkatan anggaran dan berbagai kebijakan Nasional, seperti buku murah via internet, bantuan dana langsung (hibah) atau dikenal dengan block grant sampai dengan Bos (bantuan dana untuk operasional sekolah), bos buku dan lain sebagainya.

Dilihat dari prestasi siswa-siswa di pentas Internasional, meskipun belum 100% membanggakan, akan tetapi dapat dikatakan sudah lumayan. Beberapa medali emas dalam olimpiade internasional menjadi angin segar dalam dunia pendidikan kita.

Kebijakan pemerintah (Depdiknas) untuk merintis, membangun sekolah bertaraf internasional mulai dari SD sampai dengan SMA/SMK yang sudah memasuki tahun ke 3/4 telah menunjukkan beberapa keberhasilan. Kompas 10/12 memuat berita bahwa sekolah bertaraf internasional akan diberi bantuan dana 500 juta untuk melengkapi fasilitas dan perangkat pembelajaran serta peningkatan kualitas pendidik dan tenaga kependidikan…dan diharapkan pada ssetiap daerah (propinsi?) terdapat minimal 1 SD bertaraf internasional.

Namun demikian, masih banyak anggota masyarakat yang merasa tidak puas dengan pengelolaan atau penyelenggaraan pendidikan Nasional kita.  Dilihat dari human development index yang masih belum menggembirakan, kita tertinggal dibanding Singapura, Malasya bahkan Vietnam. Begitu juga dengan kualitas perduruan tinggi, meski sudah ada beberapa yang punya nama dan menduduki peringkat lumayan di dunia internasional, akan tetapi melihat hasil akreditasi BAN PT yang hanya sedikit sekali yang meraih nilai A. Berdasarkan beberapa hal tersebut muncul pertanyaan: Apa yang salah dalam pendidikan kita?

Siapa yang bersedia memberi jawaban kami tunggu !

24
Nov
08

WORKSHOP LESSON STUDY DI SMPK1 BPK BDG

PENINGKATAN PROFESIONALISME GURU MELALUI LESSON STUDY

Dr. Jamisten Situmorang[1]

 

 

A.   Apa itu Lesson Study?

Pembelajaran yang berkualitas di kelas akan tercapai apabila guru merencanakan dan melaksanakan dengan baik. Untuk itu guru tersebut harus menguasai substansi materi bidang studi yang diajarkan dan menguasai bagaimana cara mengajarkannya. Guru juga dituntut menumbuhkan sikap positif terhadap suasana pembelajaran agar membuat siswa berpikir dengan memberi respon yang tepat pada siswa yang kreatif. Melalui lesson study, guru dapat mengamati pelaksanaan pembelajaran yang diteliti (research lesson) dan dapat mengadopsi pembelajaran yang sejenis setelah mengamati respon siswa yang tertarik dan termotivasi untuk belajar dengan cara seperti yang dilaksanakan pada saat melakukan pengamatan langsung terhadap pembelajaran yang diteliti maupun laporan tertulis, video, ataupun berbagi pengalaman dengan sejawat. Melalui kegiatan Lesson Study, guru dapat meningkatkan mutu pembelajaran di kelas serta meningkatkan profesionalismenya, yang pada akhirnya meningkatkan mutu lulusan.

Lesson study (Jugyokenkyu) adalah bentuk pengembangan profesionalisme guru, yang ditemukan di Jepang, di mana guru secara sistematis dan berkolaborasi melakukan penelitian dalam pembelajaran di kelas dalam upaya meningkatkan kualitas pembeljaran dan memperkaya pengalaman belajar siswa. Seacara umum, Lesson Study melibatkan sekolompok guru secara kolaboratif, merencanakan satu pokok bahasan, melaksanakan pembelajaran di sekolah, mengumpulkan data hasil observasi terhadap kesleuruhan pembelajaran, melakukan refleksi dan membahas data serta membuat laporan hasil kegiatan tersebut. Lesson Study lebih dari sekedar mempelajari bahan ajar dan mengembangkan pembelajaran yang bermanfaat. LS menjajaki gagasan untuk mengembangkan pembelajaran yang membuat siswa  berpikir (proses), membantu siswa untuk mengembangkan imaginasi untuk memecahkan masalah dan memmahami topik dan meningkatkan keterampilan dan kemampuan mereka yang dilakukan secara berkelanjutan.

Lesson study adalah pendekatan komprehensif untuk meningkatkan professionalisme guru dengan cara melibatkan guru sejawat secara berkolaborasi dalam merencanakan, mengimplementasikan, mengumpulkan data (observasi), melakukan refleksi dan membahas data yang diperoleh dan menuliskan dalam laporan.

ü  Berpikir  mengenai pembelajaran di kelas

ü  Merencanakan pembelajaran (planning lessons)

ü  Mengobservasi bagaimana siswa berpikir dan belajar serta mengambil tindakan yang sesuai

ü  Melakukan refleksi dan membahas, mendiskusikan pembelajaran tersebut

ü  Mengidentifikasi dan menghargai pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan memperbaiki praktik pembelajaran dan mencari solusi baru.

Lesson study  mendukung guru untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat tentang bagaimana caranya mengembangkan dan meningkatkan pembelajaran di kelas untuk melaksnakan pembelajaran efektif. Lesson study merupakan model alternatif pembinaan guru berkelanjutan untuk meningkatkan profesionalisme melalui kolaborasi kesejawatan. Dalam Lesson study sekelompok guru bertemu secara reguler dan periodik untuk merancang, mengimplementasikan, menguji coba, menganalisis kinerja, dan mengembangkan kembali pembelajaran agar siswa belajar. Melalui lesson study dapat diketahui seberapa efektif dan efesien pembelajaran yang dirancang bersama tersebut.

 

Lesson study dilaksanakan dalam 3 tahapan. Pertama, perencanaan (plan). Guru-guru dalam bidang studi sejenis, misalnya MIPA (Matematika dan IPA) berkolaborasi merancang/mengembangkan pembelajaran yang berpusat pada siswa. Kegiatan dilakukan dalam bentuk workshop atau pertemuan di sekolah.  Kedua, implementasi (do). Guru mengimplementasikan model pembelajaran di kelas, sementara guru lain, kepala sekolah, dan pengawas sebagai suatu komunitas melakukan observasi pembelajaran di dalam kelas. Observasi dilakukan untuk mengetahui aktivitas siswa berupa interaksi siswa-siswa, siswa-bahan ajar/sumber belajar, siswa-guru selama pembelajaran. Kegiatan observasi kelas tersebut dapat dibuat terbuka untuk guru-guru non-MIPA bahkan orang tua dan masyarakat. Misalnya saja 30 orang hadir di dalam kelas melakukan observasi pembelajaran tanpa mengganggu proses pembelajaran.

Ketiga, post-class discussion/refleksi (see). Setelah pembelajaran berlangsung, guru dan observer melakukan diskusi yang dipimpin kepala sekolah atau wakil kepala sekolah bidang kurikulum untuk bertukar pengalaman selama melakukan observasi pembelajaran. Guru menyampaikan kesan-kesannya selama melaksanakan pembelajaran, selanjutnya observer menyampaikan lesson learn dan saran-saran untuk perbaikan pembelajaran berikutnya. Selain itu, pada akhir semester dilakukan kegiatan exchange of experience untuk berbagi pengalaman dalam mengimplementasikan lesson study. Guru yang melaksanakan pembelajaran menyajikan makalah dan rekaman video hasil kegiatan lesson study dalam bentuk seminar kecil. Berbagai fenomena transaksi pembelajaran yang terjadi didiskusikan secara kritis, hal yang telah baik dan terus dimantapkan dilakukan  dan dapat dijadikan sebagai acuan pembelajaran yang lain. Hal-hal yang disepakti bersama sebagai hal-hal yang sebaiknya tidak perlu ada atau kegiatan yang tidak produktif yang terjadi sepanjang pembelajaran dijadiakan sebagai non-contoh dalam pembelajaran bagi guru yang bersangkutan dan guru lain. Sehingga dengan demikian, terjadi belajar secara kolektif dalam suatu komunitas, secara berkelanjutan dalam membenahi kinerja pembelajaran yang dilakukan guru.

Berdasarkan hasil analisis terhadap implementasi lesson study ini dinilai efektif untuk meningkatkan keprofesionalan guru. Guru menjadi lebih terbuka dan kolaboratif, bersedia untuk dilihat orang lain ketika melaksanakan pembelajaran sehingga guru tersebut  berusaha sebaik mungkin melaksanakan pembelajaran. Pada saat  observasi, guru-guru lain belajar dari pengalaman bagaimana membelajarkan siswa sehingga mereka memiliki obsesi untuk memperbaiki diri dalam melaksanakan pembelajaran yang akan datang. Sedangkan melalui kegiatan refleksi, guru menjadi lebih terbiasa untuk menerima saran-saran dari kawan sejawat dan fasilitator/mitra. Kegiatan pembelajaran tidak terganggu walaupun banyak observer di dalam kelas pada saat implementasi. Temuan lain, terjadi interaksi yang lebih aktif antara siswa-siswa, siswa-objek, dan siswa-guru dan kepala sekolah menjadi lebih berperan secara teknis edukatif dalam supervisi pembelajaran serta terdokumentasikannya proses pembelajaran untuk perbaikan pembelajaran. Leadership kepala sekolah sangat menentukan keberhasilan lesson study yang tercermin dari peningkatan kualitas aktivitas siswa dalam pembelajaran.

 

Melalui lesson study, guru dimotivasi untuk berusaha sebaik mungkin dalam menyusun perencanaan pembelajaran dengan perangkat-perangkat pendukungnya,  mengimplementasikan rencana pembelajaran yang telah dibuat, dan memperoleh masukan atau klarifikasi atas berbagai kekurang-jelasan, keraguan serta kekeliruan yang terjadi selama pembuatan rencana pembelajaran dan pengimplementasiannya melalui refleksi dan diskusi bersama para guru sejawat dan  fasilitator atau konsultan pendamping. Selain untuk meningkatkan profesionalisme dan penguasaan standar kompetensi sebagai guru mata pelajaran, bersama-sama dengan guru sejawat dengan bimbingan konsultan pendamping, diharapkan mampu melatih guru untuk mengembangkan jiwa kesejawatan. Dengan kesejawatan ini akan mendorong guru untuk lebih meningkatkan kualitas pembelajarannya karena mengetahui proses pembelajaran yang berlangsung di sekolah lain.

Peran mitra atau konsultan atau konselor adalah dalam hal merancang perbaikan atau mengimplementaikan krativitas suatu pembelajaran serta membantu mengembangkan instrumen analisis terhadap profile pembelajaran yang dirancang, dilaksanakan, dan rencana pengembangan selanjutnya secara berkelanjutan. Konsultan atau mitra atau konselor dapat berperan sebagai akselerator peningkatan kinerja guru secara berkelanjutan untuk keseluruhan siklus lesson study, mulai dari plan (pengembangan RPP), do mengimplementasikan RPP yang telah dikembangakan dengan muatan inovasi dan kreativitas, see merefleksikan profile pembelajaran yang dilakukan dan rencana perbaikan atau pengembangan selanjutnya untuk mengoptimalkan pencapaian siswa.

 

B.  Tujuan

 

Tujuan yang ingin dicapai melalui kegiatan implementasi lesson study adalah untuk meningkatkan profesionalisme guru, secara khusus dirinci sebagai berikut.

1.    Melatih para guru melakukan kegiatan Lesson Study pada bidang studi yang menjadi tanggung jawabnya (mata pelajaran yang diampu) melalui kegiatan Workshop Sehari tentang Lesson Study

2.    Merancang implementasi program Lesson Study di SMPK 1 BPK Bandung untuk pembelajaran MIPA dan IPS sesuai kebutuhan sekolah dengan melibatkan tenaga ahli sebagai konsultan atau reviewer?

3.    Terbangunnya komunitas belajar antara guru dengan guru dan guru dengan konsultan/fasilitator yang sangat bermanfaat untuk meningkatkan efektivitas komunikasi akademik dalam rangka memperbaiki dan mengembangkan kualitas pembelajaran  di SMPK 1 BPK Penabur Bandung.

4.    Ditemukannya berbagai model pembelajaran sesuai tuntutan kurikulum dan permasalahan pembelajaran di SMPK 1 BPK Penabur Bandung dengan berdasar pada pemanfaatan hands-on activity, daily life dan local material.

 

C.  Mengapa Lesson study?

Lesson study dipilih dan dimplementasikan karena beberapa alasan.
Pertama, lesson study merupakan suatu cara efektif yang dapat meningkatkan kualitas pembelajaran yang dilakukan guru dan aktivitas belajar siswa. Hal ini karena pengembangan lesson study dilakukan dan didasarkan pada hasil “sharing” pengetahuan profesional yang berlandaskan pada praktik dan hasil pengajaran yang dilaksanakan para guru, penekanan mendasar pada pelaksanaan suatu lesson study adalah agar para siswa memiliki kualitas belajar, kompetensi yang diharapkan dimiliki siswa, dijadikan fokus dan titik perhatian utama dalam pembelajaran di kelas. Berdasarkan pengalaman riil di kelas, lesson study mampu menjadi landasan bagi pengembangan pembelajaran, dan  lesson study akan menempatkan peran para guru sebagai peneliti pembelajaran (Lewis,2002).

Kedua, lesson study yang didisain dengan baik akan menjadikan guru yang profesional dan inovatif. Dengan melaksanakan lesson study para guru dapat  menentukan kompetensi yang perlu dimiliki siswa, merencanakan dan melaksanakan pembelajaran (lesson) yang efektif;  mengkaji dan meningkatkan pelajaran yang bermanfaat bagi siswa; memperdalam pengetahuan tentang mata pelajaran yang disajikan para guru;  menentukan standar kompetensi yang akan dicapai para siswa; merencanakan pelajaran secara kolaboratif;  mengkaji secara teliti belajar dan perilaku siswa; mengembangkan pengetahuan pembelajaran yang dapat diandalkan; dan melakukan refleksi terhadap pengajaran yang dilaksanakannya berdasarkan pandangan siswa dan koleganya (Lewis, 2002).

Wang-Iverson dan Yoshida (2005) mengatakan bahwa lesson study memiliki beberapa manfaat sebagai berikut.

ü  Mengurangi keterasingan guru (dari komunitasnya)

ü  Membantu guru untuk mengobservasi dan mengkritisi pembelajarannya

ü  Memperdalam pemahaman guru tentang materi pelajaran, cakupan dan urutan materi dalam kurikulum.

ü  Membantu guru memfokuskan bantuannya pada seluruh aktivitas belajar siswa.

ü  Menciptakan terjadinya pertukaran pengetahuan tentang pemahaman berpikir dan belajar siswa

ü  Meningkatkan kolaborasi pada sesama guru.

 

 

D.  Bagaimana Melaksanakan Lesson Study?

 

LS adalah struktur kerjasama guru yang meliputi, perencanaan pembelajaran, observasi pembelajaran dan diskusi hasilnya, dilanjutkan dengan revisi dan mengajarkannya lagi. Langkah-langkah tersebut telah berjalan baik karena dihasilkan berdasarkan uji coba…

 

Lesson Planning


Inti dari LS adalah pembelajaran. Pembelajaran yang  diteliti biasanya direncanakan oleh tim dan dituliskan secara detail. Topik yang dipilih untuk diajarkan memberi tantangan bagi siswa,sulit atau merupakan permasalahan…

Pembelajaran

Rencana Pembelajaran yang disusun secara kolaboratif kemudian dilaksanakan dengan berbagi peran, siapa  guru yang akan bertugas mengamati reaksi siswa pada saat mengikuti pembelajaran tersebut. Satu atau dua orang guru mengajarkan topik sesuai dengan perencanaan. Ketika siswa dihadapkan pada persoalan di dalam pembelajaran tersebut, guru pengamat berupaya merekam apa yang terjadi dalam pembelajaran tersebut, apa yang dipikirkan siswa tetapi tidak berkomunikasi dengan siswa atau pun membantu siswa tersebut. Sementara guru yang mengajar dan sedang diamati tersebut dapat meminta pengamat untuk memperhatikan siswa tertentu atau bagian tertentu dari pembelajaran yang dilaksanakan…

Lesson Discussion

Berikutnya adalah diskusi atau pembahasan terhadap pembelajaran tersebut. Moderator meminta guru yang mengajar memberi tanggapan terhadap pembelajaran yang dilakukannya. Kemudian guru yang bertugas sebagai pengamat bertanya kepada guru yang mengajar. Pertanyaannya berfokus pada masalah dalam pembelajaran tersebut. Kapan siswa telah memahami, kapan kelihatan bingung? Apakah materi pembelajaran tersebut memadai? Apakah pertanyaan-pertanyaan mendorong siswa untuk berpikir? Bagaimana reaksi siswa-siswa tersebut bila dibandingkan dengan yang direncanakan? Apa yang perlu diperbaiki agar pembelajaran tersebut menjadi lebih baik? Tujuan adalah memperbaiki atau meningkatkan pembelajaran. 

Referensi

Fernandez, C. (2002). Learning from Japanese approaches to professional development: The case of lesson study. Journal of Teacher Education, 53(5), 393-406.

Fernandez, C. & Chokshi, S. (2002). A practical guide to translating lesson study for a U.S. setting. Phi Delta Kappan, 84(2), 128-134.

Fernandez, C., & Yoshida, M. (2000). Lesson study as a model for improving teaching: Insights, challenges and a vision for the future. In A. Poliakoff & T.D. Schwartzbeck (Eds.), Eye of the storm: Promising practices for improving instruction, pp. 32-40. Washington, DC: Council for Basic Education.

Lewis, C. (2002). Lesson study: A handbook of teacher-led instructional change. Philadelphia, PA: Research for Better Schools.

Lewis, C., & Tsuchida, I. (1998). A lesson is like a swiftly flowing river: How research lessons improve Japanese education. American Educator, 22(4), 12-17, 50-52.

Lewis, C. (2000, April). Lesson study: The core of Japanese professional development. Paper presented at the annual meeting of the American Educational Research Association, New Orleans, LA.

Yoshida, M. (1999, April). Lesson study [jugyokenkyu in elementary school mathematics in Japan: A case study. Paper presented at the annual meeting of the American Educational Research Association, Montreal, Canada.

 

 

 



[1] Dr. Jamisten Situmorang, konsultan di Direktorat Pembinaan Diklat, Ditjen PMPTK, Depdiknas

06
Nov
08

Menarik di Malaysia

Malaysia sebagai negara tetangga memiliki banyak kesamaan dengan kita. Dalam bidang pendidikan pada tahun 80an Malaysia masih minta batuan kita, baik sebagai tempat belajar maupun menjadi pengajar. Tapi sekarang tinggal beberapa mahasiswa dari Malaysia belajar di kedokteran di Universitas Makasar, mungkin karena biaya yang relatif murah. Sekarang beberapa orang Indonesia belajar di Malaysia, mungkin karena dapat beasiswa atau karena alasan lain.

Melihat perkembangan Malaysia bisa membuat kita mengacungkan jempol. Saya melihat infrastruktur dan publik service sangat bagus. Jalan tol atau high way mirip seperti di Indonesia, kualitasnya cukup bagus tapi jangan bandingkan dengan tol cipularang tapi  dengan tol jagorawi. Kalau tidak salah ada dari kita pernah dapat pekerjaan bangun jalan tol di Malaysia?

Memang tidak fair membandingkan Indonesia dengan Malaysia. Penduduknya hanya 27 jutaan, daerahnya tidak kepulauan dan berbagai perbedaan yang lainnya. Namun tidak salah melihat beberapa hal yang baik di Malaysia sebagai pembanding. Misalnya sore hari di Kuala Lumpur juga macet seperti di Jakarta, tetapi di sana tidak terlihat ada polisi lalu lintas yang membantu tapi lancar saja. Beda bangat dengan Jakarta yang kalau sudah hujan macetnya tidak ketulungan, meskipun dibantu sejumlah polisi…he he

Tampaknya ekonomi Malaysia sudah lama bertumbuh dengan pesat, buktinya adalah TKI. Di KL banyak supir taksi adalah orang Indonesia. Apalagi di perkebunan kelapa sawit dan pekerjaan informal lainnya. Tapi jangan salah, kolong jembatan gak ada yang ngisi, pengemis dan tukang parkir gak ada (jadi kalau itu salah satu indikator kesejahteraan rakyat? maka Malaysia lebih makmur dari kita.

Nilai rupiah terhadap ringgit  2800: 1 jadi kebayangkan kalau bawa rupiah belanja di Malaysia

Ternyata negara jiran ini sudah lebih berhasil dalam beberapa hal, meski kita tidak  harus menirunya tapi  melihat yang menarik di sana sebagai referensi tidak apa toh. Salah satu di antaranya adalah pendidikan anak berkebutuhan khusus (pendidikan khas). Di Malaysia ada Sekolah Vokasional sejenis SMK tapi siswanya tidak bisa mendengar. Kebayang kan gimana ngajarnya. Pake bahasa isyarat tentu saja. Di sekolah tersebut disediakan asrama (putra dan putri) akan ada SEAMEO centre d

05
Nov
08

Sekedar Saran Menghadapi Krisis

Terus terang ini saya dapat dari teman jadi it is not my opinion

 

Teman2, agak serius dikit ya.

Sebetulnya ini agak telat, tapi sorry karena pikiranku kesita banget ama kerjaan. Barusan aja aku kepikiran untuk share ama kalian di milist ini. Aku sendiri juga kelimpungan jawab pertanyaan dari orang2 soal ini. Ini bukan nakut2in tapi kenyataan dan aku nulis ini supaya kalian tahu apa yang harus dilakukan. Aku kerja di bidang investasi dan keuangan dan aku dah tahu duluan tentang hal ini. Aku dah tahu dan ngerasain krisis ini dari awal tahun tapi kan belum ngefek ke real sector, berhubung sekarang udah menjalar dan kalian akan segera merasakannya maka aku tulis ini. Krisis ini bisa lebih buruk dari krisis 98, tapi kondisi ekonomi kita lebih kuat sekarang. Krisis yang sekarang asalnya dari luar bukan dari dalam negeri. So, aku minta kalian benar2 baca tulisan aku ampe selesai. Terserah kalian akan ikutin atau tidak, yang jelas aku punya license nasional dan pemahaman yang membuat tulisan aku di bawah ini suatu penjelasan dan saran yang bisa diikuti, bukan nakut2in. Bila ada pertanyaan bisa menghubungi aku di 08111834945, free of charge. Ini juga bukan iklan, gue ngga butuh. Please feel free. Tapi please jangan marah kalo gue ngga jawab karena kantor juga kacau abis.

 

Singkatnya gini deh:

Kondisi ekonomi:

1. Krisis keuangan di AS sangat sangat sangat parah.. Tidak ada yang selamat. Ini sistem yang hancur.

2. Krisis itu telah menjalar ke seluruh dunia, sekali lagi tidak ada yang selamat. Kalo ada rumor yang mengatakan bahwa negara ini bakal kuat, bakal jadi pemimpin, jangan percaya.

3. Banyak negara sudah memasuki masa resesi, seperti Inggris dan Singapur. Sebenarnya banyak sekali negara sudah masuk resesi tapi secara definisi belum karena dalam definisi ekonomi suatu negara dinyatakan resesi bila pertumbuhan ekonominyanegatif 2 kuartal berturut2. Jadi yang tinggal di Singapore, Inggris dan US benar2 harus melakukan perubahan cara hidup mulai sekarang.

4. Krisis ekonomi sudah menjalar ke sektor real artinya akan kita rasakan. Sekarang sebenarnya sudah tapi tidak banyak orang awam yang benar2 sadar dampaknya. Ekspor kita sudah melambat, harga2 komoditas kita sudah jatuh, eksportir2 kita sudah memecati karyawan, impor ilegal sudah masuk. Pertumbuhan ekonomi kita bisa negatif.

5. Sektor2 yang paling dulu terkena imbasnya adalah properti, manufaktur, pertambangan, perkebunan.. ..sebenarnya sekarang udah terasa. Jadi tahun depan jangan harapkan perusahaan kalian kasi bonus besar lagi atau kasi kenaikan gaji tinggi lagi,

 

Artinya : Semua orang, semua negara sedang dalam perang memperebutkan cash. Siapa yang punya cash nantinya punya kemampuan lebih untuk bertahan

 

Saran dari aku:

1. Gaji dan semua income jangan dibelikan investasi lagi. PEGANG CASH. Buat kalian yang pas2an sekali, aku saranin, akumulasi cash dalam bentuk hard cash yaitu rekening tabungan (yang bisa ditarik dengan ATM). So, gaji masuk jangan belanja apa2.

2. Barang2 tertier terutama yang bakal dibeli pake kredit nanti dulu deh, pegang cash dulu. Barang2 akan mahal, susu anak mahal…so, pegang cash.

3. Bila kalian dengar harga emas naik dan sebagainya, jangan tergiur. Emas memang naik, tapi sangat volatile. Contoh temanku, beli emas, niatnya mau jualan,….eh telat, sekarang turun lagi. Lagian percaya deh, sulit jualnya karena semua orang dalam kondisi pengin jualan. Kalian bisa beli kemungkinan besar susah jualnya

4.Investasi tunda dulu deh. Kalo memang ada duit lebih deposito saat ini yang paling cocok, itu juga near to cash walaupun ada jatuh temponya. Nah untuk deposito aku saranin:

4.a. Masukkan ke bank yang aman, buat kalian aku sarankan kalo bisa bank pemerintah.

4.b Bunga penjaminan pemerintah hanya 10%. Artinya bila deposito kalian mendapat bunga di atas 10% maka uang kalian tidak akan dijamin oleh pemerintah. Bila, bank itu kolaps, maka uang kalian bisa saja hilang….lang lang. Terus nominal yang diganti hanya maksimal 2 M. Mungkin kalian tidak ada yang punya sebanyak itu tapi informasi ini bisa dishare ke bokap atau nyokap.

5. Jangan panik lalu ikut2an beli emas atau dollar. Dollar justru tinggi2nya. Udah Rp 10,000 an. Dollar yang tinggi ini karena investor asing menarik uangnya dari Indonesia, mereka kan butuh dollar supaya bisa dibawa ke negara mereka. Jadi bukan karena kondisi ekonomi kita yang jelek.

 

Rumor:

1. Ekonomi Indonesia kuat, jauh lebih kuat daripada Singapore bahkan. Singapore sudah masuk resesi, 2 kuartal berturut2 -6%. Indonesia masih tumbuh 6%. Bila ada rumor yang mengatakan bahwa krisis kali ini disebabkan oleh pemerintah kita yang payah jangan percaya. Tim ekonomi kita sekarang ini tangguh. Cara mereka menanggulangi krisis sudah on track. BI mungkin membuat kebijakan yang mengejutkan tapi Menkeu tidak. I am objective di sini karena aku pelaku pasar bukan orang politik.

2. Jadi, bila ada rumor yang mengajak kalian menggulingkan pemerintah sekarang seperti zaman Soeharto, jangan terpancing.

3. Hutang luar negeri kita sangat2 kecil saat ini dan cadangan devisa kita jauh lebih kuat daripada tahun 97/98. Dulu hutang luar negeri kita 100% dan cadangan devisa kita nol. Saat ini kita juga tidak ada hubungan lagi dengan IMF. Semua hutang kita itu independent.

 

Tindakan:

1. Selain menyediakan cash untuk keperluan kita dan keluarga, mulai sekarang belilah dan pakailah produk dalam negeri. Aku ngga sok idealis, ini ada logikanya. Logikanya gini. Sekarang semua negara butuh cash, istilahnya ngga ada yang beli dagangan mereka, semua negara maunya jualan produk mereka supaya dapat cash. Nah, ngapain coba kita ngasih rakyat negara lain pendapatan dengan membeli produk2 mereka? Rugi amat. So, pake semua produk lokal. Kita mulai dari diri kita sendiri. Belanja ke Singapore nya ntar dulu. Travelling ke Phuket nya ntar dulu. Beneran….

2. Produk impor yang menggiurkan sudah masuk menyerbu ke Indonesia. Itu sebenarnya dagangan negara2 lain yang tidak laku di USA karena USA dan negara2 kaya dan maju sudah bangkrut sehingga ngga minat lagi. Harga barang2 itu murah tapi sekali lagi, ngapain kasi makan negara lain sementara negara2 itu sudah tidak punya kapasitas lagi kasih makan kita. Ini bukan kondisi normal lagi ketika perdagangan antar negara terjadi karena saling membutuhkan, ini sih negara yang jualan udah ngga bisa timbal balik beli barang kita. Dong kan? Lagian ati2, mereka masuk dengan barang2 palsu kaya telur palsu dari bahan kimia.Yang sudah masuk sih barang2 dari China karena ekspor mereka tidak terserap oleh US makanya dibuang ke Asia. Dan ingat walaupun ekonomi China masih tumbuh 10% dan cadangan valas merekan terbesar di dunia, duit mereka juga sudah banyak ketanam di AS sehingga mereka juga merasakan dampak krisis ini.

3. Sekarang udah ngga pada kondisinya deh ngributin masalah politik dan ideologi, so jangan terpancing.. ..amakan dulu perut.

 

Investasi;

1. Bagi kalian yang punya reksadana di saham, kalo nilai investasi kalian sudah di bawah 50%, biarkan saja, jangan dijual karena kalo kalian jual maka uang kalian benar2 akan tinggal dikit. Biarkan saja nanti balik lagi…tapi kali ini memang lama….minimal 2 tahun bahkan lebih. Sekali lagi ini krisis yang sangat besar, terbesar sepanjang masa ekonomi dunia modern.

2. jangan beli asuransi dengan link lagi. Bila ada asuransi dengan link di dalamnya aku jamin hasil investasi kalian kecil sekali. Kalo belum lama belinya tanya ke agennya bisa tidak diswitch ke murni asuransi.

2. Kalo memang ada duit lebih, masukkan saja ke deposito. Sekarang yieldnya lagi tinggi tapi ingat penjelasan ku tentang deposito di atas.

 

Rina

17
Okt
08

Apakah krisis akan berlangsung lama?

Setelah Lechman Brothers bangkrut, yang ternyata orang kita, cina, hongkong pun banyak yang kena, ketipu. Mereka tergiur dan tergoda dengan tawaran dari bank yang bonafide, punya nama dll.

Anehnya meskipun semua negara maju telah berjuang untuk mengatasi krisis tetap penurunan bursa efek tetap terjadi…katanya cina dan hongkong akan mengambil alih lembaga sekuritas Amerika? Benar gak sich?

Setahu saya Cina memang kuat ekonominya, jadi ada kemungkinan raksasa atau supor power AS akan runtuh…nanti bukan dollar lagi yang merajai dunia tapi yuan ya?

Ahli ekonomi atau ahli investasi ada yang suka ngeblog gak ya, kalau ada kasih tahu saya donk, biar bisa mampir. Soalnya yang komentar di media tv menurut saya banyak yang asal ngomong, biarpun saya bukan ahli ekonomi atau ahli investasi tapi ngertilah dikit-dikit tentang pergolakan bursa efek dunia….

Siapa yang bisa memberi jawaban tentang krisis yang sekarang akan lama gak sich?

19
Sep
08

REVITALISASI BUDAYA BANGSA

 

Kebudayaan sebagai “buah budi” manusia, baik yang bersifat lakhir maupun batin, yang mengandung sifat-sifat keluruhan dan kehalusan etis dan aestetis, yang ada pada hidup manusia pada umumnya. Budi yang dimaksud tidak lain adalah jiwa yang sudah masak, sudah cerdas, dan oleh karenanya sanggup dan mampu mencipta. Karena budi manusia itu mempunyai sifat jujur dan halus, maka segala ciptaannya senantiasa mempunyai sifat luhur dan halus pula, sesuai dengan ajaran etika dan estetika. Dengan perkataan lain, kebudayaan adalah hasil perkembangan masyarakat Indonesia yang dipelihara atas dasar kesadaran akan penting dan perlunya (relevansi) nilai-nilai tersebut dalam masyarakat kita. Kemudian, usaha untuk meningkatkan kebudayaan bangsa kita harus menuju ke arah kemajuan adab, dan persatuan, dengan tidak menolak bahan-bahan baru dari kebudayaan asing yang dapat memperkembangkan atau memperkaya kebudayaan bangsa kita sendiri, serta mempertinggi derajat kemanusiaan bangsa Indonesia.

Budaya bangsa Indonesia sebagai suatu sistem normatif yang memola perilaku “bangsa”, sekaligus memola interaksi dalam pergaulan antar warganya. Kesamaan budaya tentu saja akan memperlancar pergaulan dan kehidupan bersama, akan tetapi perbedaan budaya perlu diupayakan agar tidak menghambat atau menghalangi kelancaran pergaulan. Bagaimana agar tidak ada atau tidak menonjol adanya perasaan in-group feeling dan out-group feeling di kalangan warga kita. Bagaimana agar  perbedaan budaya tidak serta merta  berarti perbedaan dalam hal afiliasi kelompok, solidaritas dan kesetiaannya. Kesadaran kesukuan adalah refleksi kesadaran yang timbul sebagai akibat kesadaran akan adanya perbedaan budaya dalam arti lama, yang penulis sebut sebagai pengertian yang salah. Ini merupakan tantangan dan tugas kita untuk menciptakan bagaimana perbedaan budaya itu tidak mengarah pada perpecahan, tidak mendatangkan konflik. Karena konflik itu akan menghabiskan, menghancurkan peradaban yang telah kita capai.

Sedangkan nilai-nilai dalam masyarakat  dapat diartikan sebagai keputusan-keputusan, ketentuan-ketentuan, ukuran-ukuran, peraturan-peraturan, anggapan-anggapan dan lain-lain yang berlaku dalam masyarakat kita atas dasar kesadaran akan relevansinya berlaku dalam masyarakat kita untuk menjaga ketertiban, keamanan dan kesejahteraan masyarakat. Nilai-nilai tersebut di antaranya ada yang baru dan ada yang lama, bahkan ada pula yang sudah terlupakan. Bangsa Indonesia, yang sudah mempunyai banyak ajaran leluhur yang mengutamakan kebenaran yang etis (ethical truth) untuk kesejahteraan dan kebahagiaan umat, tidak semestinya kita kurang memberi perhatian apalagi ignoring ajaran (ngelmu) dan nilai kebudayaan daerah tersebut hanya karena lebih tergoda dengan budaya bangsa lain yang belum tentu lebih baik atau cocok dengan kehidupan masyarakat kita.

 

Sebagai contoh, nilai kejawen, yang penuh dengan ajaran Budi Luhur, masih sangat relevan bagi kekuatan bangsa Indonesia di tengah-tengah kehidupan modern yang penuh dengan rasa egoisme, egosentris, dan materialisme. Meskipun nilai-nilai kejawen tersebut sudah banyak dilupakan atau ditinggalkan oleh orang Jawa itu sendiri dengan berbagai alasan, akan tetapi tidak berarti sudah tidak relevan dengan kehidupan bangsa Indonesia modern. Persatuan dan kesatuan bangsa dapat dibantu  dengan kesadaran emosi yang baik, sehingga hubungan manusia yang penuh rasa emphaty, tepa-selira dan kasih sayang, yang semuanya itu terdapat dalam nilai-nilai kejawen.

Anggota legislatif seharusnya mengerti dan menghayati ajaran-ajaran lelurur sebagai pengetahuan esotic dan dapat memilih yang dinilai masih penting untuk disampaiakan kepada pendukungnya dalam rangka mempersiapkan generasi baru. Tujuan  utama mempelajari dan menggali nilai budaya luhur guna disumbangkan melalui pendidikan politik dalam rangka pembinaan manusia Indonesia seutuhnya serta pembentukan kebudayaan Nasional. Penulis melihat, sekarang ini bangsa-bangsa Barat yang telah maju dalam ilmu pengetahuan,  menyadari bahwa ilmu pengetahuan yang didasarkan pada rasionalisme untuk mencapai kebenaran logika (logical truth) saja tidak cukup untuk memecahkan masalah-masalah dunia, sehingga bangsa Barat dewasa ini mulai mempelajari  dan menekuni ajaran kuno (indigenous knowledge)  yang dianggap besar manfaatnya dalam mengatasi masalah-masalah bangsa tersebut.

Tugas angoota legislatif untuk membentuk manusia (termasuk mempersiapkan generasi muda) yang berbudi pekerti luhur bukanlah pekerjaan mudah. Kegiatan pendidikan politik tersebut harus dilakukan melalui kepemimpinan, peneladanan dengan memberi contoh hidup sebagai manusia yang berbudi pekerti yang luhur. Penulis berkeyakinan, bahwa persatuan bangsa kita akan semakin kuat dan kokoh, apabila anggota legislatif yang memiliki tepa seliranya tinggi, berempathy satu sama lain, bangsa yang merasa bersaudara, senasib, dan sepenanggungan.

Pembangunan suatu kebudayaan nasional dalam arti seluas-luasnya merupakan  satu keharusan bagi bangsa kita, termasuk anggota legislatif Indonesia. Dalam memajukan kebuadayaan nasional Indonesia seperti diamanatkan oleh UUD 1945, kita seharusnya memperhitungkan dan mengandalkan puncak-puncak dan sari-sari kebudayaan yang terdapat di seluruh kepulauan Indonesia, baik yang lama maupun yang baru yang berjiwa nasional, itulah kebudayaan nasional (Daoed Joesoef: 226). Dengan kata lain, seperti yang dikemukakan  Ki Hadjar Dewantara, bahwa kebudayaan nasional kita adalah segala puncak-puncak dan sari-sari kebudayaan daerah di seluruh kepulauan Indonesia, baik yang lama maupun yang sudah tidak dikenal masyarakat kota.  Puncak-puncak dan sari-sari kebudayaan tersebut bukan merupakan “kumpulan” atau dikumpulkan menjadi satu, lalu dipakai oleh orang-orang di seluruh Indonesia. Penulis kira adalah keliru kalau ada mengira bahwa, misalnya pakaian nasional Indonesia menurut teori puncak-puncak tadi akan berupa ikat kepala blangkon, baju Minangkabau, sarung setengah dilipat, celana hitam memanjang dan sepatu setengah sandal. Juga kalau ada beranggapan  bangunan rumah, misalnya, ruang muka berbentuk pendopo, tengah campuran Batak, Minangkabau, Kalimantan, dan belakang puri Bali. Puncak-puncak dan sari-sari kebudayaan yang terdapat di seluruh kepulauan kita tersebut merupakan modal kita yang pertama, yang nantinya harus dan akan disusul dengan ciptaan-ciptaan baru, yang timbul karena ada hasrat untuk membangun kebudayaan sendiri dan karenanya pasti akan berjiwa nasional.

Namun demikian, kita tidak perlu berusaha menyatukan apa yang tidak dapat dan tidak perlu disatukan. Cukuplah bila kita hanya menyatukan pokok-pokok dan dasar-dasarnya saja, artinya yang memang dapat dipersatukan. Hal ini perlu diingat karena kerapkali orang menuntut kesatuan yang tidak perlu atau tidak mungkin dipersatukan. Tuntutan kesatuan seperti itu kerap kali bahkan menjadi salah satu sebab akan timbulnya perpecahan. Kita mempunyai kebebasan untuk memilih dan mengambil apa yang ada di daerah-daerah yang bukan daerah kita sendiri untuk kita jadikan sebagai budaya Nasional. Pembangunan kebudayaan nasional dalam arti seluas-luasnya merupakan suatu keharusan bagi bangsa kita.  Nasionalisme yang sudah dibangkitkan semenjak tanggal 20 Mei 1908 atau seratus tahun yang lalu perlu dipertahankan dengan nilai-nilai budaya yang berjiwa nasional. Nasionalisme yang berisikan nilai-nilai budaya seperti ini pasti masih kita perlukan sebagai satu Bangsa dalam mengarungi abad 21 ini yang diperkirakan banyak orang penuh dengan tantangan dan ketidakpastian.

Anggota legislatif sebagai perwakilan rakyat sudah sewajarnya proaktif, berperan dalam melakukan revitalisasi budaya bangsa. Revitalisasi tersebut dimaksudkan untuk menghidupkan kembali nilai-nilai budaya bangsa yang masih relevan untuk mensejahterakan bangsa Indonesia. Hasil revitalisasi tersebut diharapkan dapat ditranformasikan kepada generasi muda melalui kegiatan politik. Semoga!