28
Nov
07

Kontroversi Ujian Nasional SD

 KONTROVERSI UN UNTUK SD

Evaluasi hasil belajar idealnya didasarkan pada tujuan pendidikan, standar isi, kurikulum, pembelajaran aktual oleh guru demi kepentingan orang tua, masyarakat, sekolah dan pemerintah. Evaluasi tersebut menggambarkan visi pendidikan, sistem persekolahan dan sistem penilaian yang difokuskan pada perbaikan pembelajaran siswa di kelas. Ujian Nasional  seharusnya mendukung peningkatan atau perbaikan proses pembelajaran, terintegrasi dengan kurikulum dan pembelajaran, artinya dilaksanakan sesuai dengan implementasi kurikulum dan pembelajaran yang actual.   UN seharusnya didasarkan pada fondasi pendidikan yang kuat. Fondasi itu sendiri antara lain; 1) sekolah didirikan untuk memenuhi kebutuhan belajar semua siswa, 2) pembuat UN memahami betul bagaimana variasi kondisi pembelajaran dan  fasilitas belajarar yang ada dan 3) pemerintah perlu menetapkan standar pembelajaran dan  menyediakan kesempatan yang equitable and adequate untuk belajar bagi warga Negara yang berusia sekolah.UN memang seharusnya dilaksanakan, karena ternyata berperan positif dalam memperbaiki pendidikan Nasional. Bahwa UN membahwa dampak psikologis itu wajar, tidak ada kebijakan pemerintah dalam menangani masalah pendidikan yang tidak membawa konsekuensi, tinggal bagaimana orang tua, masyarakat mengelola konsekuensi tersebut. Konsekuensi UN untuk SD memang masih perlu dilihat sejauh mana mempunyai efek positif dalam meningkatkan mutu pendidikan dan menguntungkan bagi masyarakat dan pemerintah. Oleh sebab itu, pemberian wewenang untuk menetapkan standar kelulusan kepada pemerintah daerah ataupun ke sekolah selama masih tetap menggunakan hasil UN bukan  penilaian dari waktu ke waktu, hasil penilaian reguler dan/atau  hasil kerja siswa yang dilakukan oleh guru di sekolah maka UN tidak banyak manfaatnya. Penulis mengusulkan kepada Depdiknas agar UN lebih bermakna dalam meningkatkan kualitas pendidikan Nasional, beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan UN untuk SD, yakni;

Pertama;  Tujuan dasar UN untuk SD adalah memperbaiki belajar siswa. Baik penilaian yang dilakukan guru di sekolah maupun UN pada dasarnya bertujuan untuk memperbaiki belajar siswa. Hasil UN merupakan informasi berharga tentang; apakah siswa mencapai tujuan pembelajaran dan memberikan gambaran perkembangan pencapaian siswa. UN dilakukan konsisten dengan tujuan belajar, kurikulum, pengajaran yang aktual dan bagaimana siswa belajar. UN adalah bagian yang terintegrasi dengan kurikulum dan pengajaran aktual yang dijalankan guru di sekolah. UN dilakukan dengan berbagai cara, misalnya memilih beberapa metode evaluasi pendidikan seperti observasi informal, wawancara, tugas proyek, ulangan, penampilan, rekaman video, eksperimen, portofolio dan journal. Pilihan ganda hanya cocok kalau dimaksudkan untuk membuat ranking atau perbandingan siswa, jika pilihan ganda tetap digunakan, sebaiknya terbatas atau sebagai bagian kecil saja dari keseluruhan UN.

 Kedua, UN harus mendukung siswa belajar. Hasil evaluasi belajar merupakan informasi penting untuk memperbaiki proses belajar-mengajar, intinya digunakan sebagai dasar untuk mendukung pembelajaran. Guru, sekolah sesuai dengan sistem pendidikan menggunakan hasil evaluasi tersebut untuk membuat keputusan, seperti kriteria kenaikan kelas, kelulusan, peringkat siswa,peringkat sekolah dan lain sebagainya. Ketiga; UN harus “fair” kepada semua siswa. UN secara keseluruhan (intrumen tes, kebijakan, pelaksanaan) harus fair untuk semua siswa. Dalam pelaksanaan UN harus yakin, bahwa semua siswa mendapat perlakuan yang fair, tidak membatasi kesempatan siswa, boleh aja menggunakan pilihan ganda akan tetapi juga memberi kesempatan bagi siswa untuk menunjukkan pengetahuan dan pemahaman mereka terhadap materi yang dites. UN harus tidak bias dan merefleksikan pengetahuan siswa secara aktual.UN harus disesuaiakan dan mengakomodasi kebutuhan khusus, seperti materi tes bahasa Inggris untuk siswa yang tuli.

Keempat; Kolaborasi profesional dalam mengembangkan materi UN. Materi UN tergantung pada pendidik yang memahami tujuan penilaian, menggunakan variasi, tingkat kesulitan dan bentuk soal yang sesuai, kerja sama dalam memperbaiki dan mengembangkan UN secara professional, termasuk penyusun materi tes yang profesional. Sekolah juga harus menyiapkan siswanya untuk menghadapi berbagai bentuk penilaian dalam pembelajaran di kelas, guru harus dilibatkan dalam penyusunan UN dan pengembangan UN tersebut difasilitasi Depdiknas. Soal UN bukan dibuat oleh pakar evaluasi yang tidak pernah mengajar di sekolah.  

Kelima, Partisipasi Masyarakat dalam Pengembangan UN. Perlu dukungan masyarakat, seperti orang tua, assosiasi profesi pendidik  bersama dengan pendidik dan kelompok pakar/professional bersama-sama dalam mengembangkan system, mulai dari membahas  tujuan, metode perlu melibatkan orang banyak luas yang tertarik dalam pendidikan. Jadi orang tua, siswa dan anggota masyarakat yang ahli dalam berbagai bidang, guru dan ahli pendidikan lainnya ikut dalam mempertajam sistem penilaian hasil belajar siswa.

 Keenam; Komunikasi Mengenai UN harus reguler dan jelas. Pendidik (guru), sekolah, dinas pendidikan kabupaten/kota dan diknas  secara reguler dan jelas membahas pelaksanaan UN. Guru dan sekolah mengkomunikasikan dalam bahasa sehari-hari tentang tujuan, metode dan nilai yang diperoleh, hasil UN difokuskan kepada apa yang diketahui siswa dan apa yang mereka dapat lakukan, apa yang perlu dipelajari untuk dilakukan dan apa yang akan dilakukan untuk terjadinya perbaikan. Mereka melaporkan data prestasi dalam arti  tingkat pencapaian tujuan belajar, bila perlu diberi penjelasan, misalnya hasil kerja siswa perlu dijelaskan kepada orang tua sehingga mereka paham tingkat atau kualitas kemampuan siswa, biasanya hasil belajar dilaporkan bersama dengan program pendidikan dan lain-lain yang menggambarkan pencapaian hasil belajar siswa.

Ketujuh; UN diperbaiki dan direviu secara regular. Sistem penilaian secara reguler harus direview dan diperbaiki untuk menyakinkan bahwa sistem tersebut dari sudut pandang pendidikan menguntungkan untuk semua siswa. UN harus dikembangkan secara terus menerus. Meskipun telah dirangcang dengan baik, tetap perlu diadaptasikan, disesuaikan dengan perubahan situasi dan berkembangnya ilmu pengetahuan. Hasil review sebagai dasar  untuk perbaikan bagian tertentu atau keseluruhan  dari sistem tersebut. Orang yang diminta mereview tentu saja adalah ahli, termasuk stakeholder sistem pendidikan, ahli independen. Tentu saja focus analisis terhadap cost-benefit dari UN, termasuk dampak  terhadap pembelajaran secara luas dan peningkatan mutu Pendidikan Nasional. 



%d blogger menyukai ini: