09
Jan
08

PORTOFOLIO UNTUK SERTIFIKASI GURU

Melihat kelulusan guru untuk mendapatkan sertifikat kompetensi pendidik hanya kurang lebih 50%, ada kemungkinan bahwa guru tidak terampil membuat portofolio atau  guru tidak punya bukti fisik sebagai guru yang profesional atau kompeten. Kemungkinan lain standar kelulusan yang begitu tinggi sehingga tidak mudah dicapai oleh guru atau uang tunjangan profesi guru tidak cukup kalau semua peserta lulus tahun ini? Yang manapun yang menjadi penyebabnya tetapi kayaknya guru perlu belajar membuat portofolio yang baik. Saya yakin sebagian besar guru tidak terbiasa membuat portofolio dan tidak mengarsipkan dengan baik semua bukti fisik yang diperlukan. Berikut ini ada tulisan yang dapat sedikit membantu guru yang menyiapkan portofolio, selamat membaca…….

Portofolio itu Apa?
 
Portofolio guru adalah akumulasi atau kumpulan hasil kerja yang telah dicapai. Seperti halnya seorang artis, menggunakan portofolio hasil kerjanya untuk menggambarkan kemampuan, talenta, bakatnya dalam bidang keartisannya. Portofolio guru  dirancang untuk mennggambarkan, mendemontrasikan talenta guru tersebut. Portafolio tersebut biasanya dibuat oleh guru yang bersangkutan untuk menekankan dan mendemontrasikan pengetahuan, keterampilannya dalam mengajar. Portofolio juga digunakan sebagai bahan refleksi; karena setelah mempelajari portofolio tersebut biasanya  diberikan kesempatan untuk mengkritisi dan mengevaluasi efectivitas, efisiensi pembelajaran dan interaksi guru tersebut kepada murid dan interaksi di antara sesama guru.

Apa yang biasanya diikutsertakan atau yang dilampirkan dalam berkas yang disebut portofolio guru? Tidak ada standar mengenai isi dari prtofolio, akan tetapi biasanya portofolio guru berisi; Rencana Pembelajaran, filosofi guru yang bersangkutan tentang pendidikan, surat rekomendasi, resume nilai yang diperoleh dalam menempuh pendidikan guru, nilai atau hasil tes yang pernah diikuti, seperti TOEFLE,  kopi sertifikat pendidikan dan pelatihan yang pernah diikuti, transkrip nilai dan lain sebagainya. Tentu Sangat bergantung pada tujuan dan manfaat atau penggunaan dari portofolio tersebut, sekali lagi sangat tergantung pada untuk apa portofolio tersebut dipergunakan? Tampaknya tidak ada satu ketentuan yang baku apa saja yang menjadi isi dari portofolio guru, akan tetapi biasanya, hal-hal yang ada dalam portofolio guru adalah:

·         Latar belakang pendidikan;
·         Mengajar di kelas berapa, jumlah jam mengajar dan mata pelajaran yang diajarkan;
·         Sertifikat yang dimiliki, misalnya Hasil Tes Nasional, hasil tes uji sertifikasi (kalau ada), Nilai TOEFEL dan lain-lain;
·         Pernyataan pribadi tentang alasan mengapa mau menjadi guru;
·         Sertifikat yang dimiliki dalam rangka peningkatan kemampuan personal atau peningkatan professional sebagai guru, misalnya seminar, pelatihan yang diikuti, dan kegiatan lain yang berkaitan dengan profesinya sebagai pendidik;
·         Rencana pembelajaran, materi pembelajaran dan buku yang ditulis untuk materi pembelajaran;
·         Prestasi siswa  dalam mata pelajaran yang diajarkan;
·         Video yang menggambarkan proses pembelajaran yang dilakukan guru tersebut (rekaman)
·         Hasil pengamatan teman sejawat pada saat guru tersebut mengajar;
·         Refleksi tertulis tentang pembelajaran (Written reflections on teaching).
·         Foto-foto yang menggambarkan kegiatan guru tersebut pada waktu mengajar atau mengikuti kegiatan yang berkaitan dengan pembelajaran atau pendidikan.
·         Deskripsi upaya yang dilakukan untuk meningkatkan pengajaran
·         Silabus kursus yang diikuti
·         Ringkasan hasil evaluasi terhadap pengajar oleh siswa 
·         Lain-lain
 
Beberapa hal yang sering salah kaprah mengenai portofolio guru adalah, banyak  orang beranggapan, bahwa portofolio guru sebagai folder yang memuat seluruh kegiatan mengajar dan evaluasi. Memang idealnya, portofolio guru adalah dokumen yang dibuat oleh guru yang bersangkutan berkaitan dengan tugas-tugasnya atau menggambarkan proses perkembangan yang dicapai dalam tugasnya sebagai pendidik,  termasuk perkembangan proses mengajar. Biasanya, portofolio guru juga dilengkapi dengan lampiran-lampiran sebagai data tambahan atau informasi pendukung yang dapat membantu tim penilai mendapatkan gambaran yang lebih lengkap terhadap perkembangan tersebut. Semua data yang disampaikan dalam portofolio dimaksudkan untuk menyakinkan tim penilai bahwa yang bersangkutan secara akurat sudah mencapai tingkat perkembangan tertentu yang digambarkan melalui berbagai bentuk kegiatan dan informasi. Lampiran portofolio tersebut biasanya disesuaikan dengan kebutuhan atau bergantung pada penggunaan portofoilio tersebut, misalnya saja dalam portofolio calon guru yang hendak diangkat menjadi guru tetap, seperti pegawai negeri sipil, biasanya dilampirkan rekaman video yang menggambarkan bagaimana guru tersebut dalam mengelola pembelajaran atau saat mengajar atau bisa juga dilampirkan rekaman wawancara yang menggambarkan pandangan guru tersebut terhadap pendidikan dan pembelajaran, dan lain sebagainya. Sedangkan ukuran portofolio itu sendiri sangat bervariasi, akan tetapi biasanya berisikan sekitar 2 sampai dengan 10 halaman ditambah dengan lampiran-lampiran sesuai dengan kebutuhan.
 
BAGAIMANA MENGGUNAKAN PORTOFOLIO GURU?
 
Portofolio guru adalah alat dalam dunia pendidikan, yang pada umumnya digunakan dalam dua cara; Pertama, portofolio digunakan sebagai alat pengukuran yang otentik dalam mengevaluasi efektivitas guru dalam rangka pemberian lisensi mengajar (sertifikat kompetensi pendidik) atau sebagai persyaratan apakah guru yang bersangkutan dapat diterima atau tidak dapat diterima untuk menjadi guru (biasanya sebagai alat seleksi penerimaan guru baru). Sebab walaupun yang bersangkutan telah lulus dari lembaga pendidikan calon guru, masih perlu dibuktikan sejauh mana yang bersangkutan layak untuk menjadi seorang guru. Kedua,  portofolio guru biasanya dipergunakan untuk mendapatkan umpan balik (masukan) dalam rangka untuk memperbaiki atau meningkatkan profesionalisme guru yang bersangkutan dalam mengajar. Misalnya saja, portofolio guru tersebut digunakan oleh pengawas sebagai bahan untuk melihat sejauh mana guru yang bersangkutan telah memenuhi standar kompetensi sebagai pengajar dan apabila masih ada hal-hal yang perlu ditingkatkan akan disampaikan kepada guru tersebut sebagai masukan untuk meningkatkan profesionalisme sebagai pendidik.
 
Berdasarkan kedua fungsi portofolio di atas, apakah portofolio cocok digunakan sebagai alat untuk mensertifikasi pendidik di Indonesia? Sebagai bentuk pengukuran yang otentik, portofolio guru memegang peran yang sangat penting dalam keseluruhan evaluasi terhadap kinerja guru. Di Amerika, sebagian besar universitas sekarang ini bahkan menggunakan portofolio sebagai alat bantu (instrument) untuk mengambil atau memmbuat keputusan yang berkaitan dengan personil. Sebagian lembaga pemerintahan lebih cenderung menggunakan portofolio guru  sebagai alat perlengkap atau tambahan daripada menggunakan pola-pola pengukuran yang bersifat tradisional, seperti tes skolastik yang terstandar dan pengukuran melalui observasi. 
 
Sebenarnya tidak disarankan menggunakan portofolio guru untuk hal-hal yang sifatnya mengandung resiko tinggi, atau untuk dijadikan dasar dalam membuat keputusan yang sangat penting, seperti halnya sebagai alat ukur untuk mensertifikasi guru, akan tetapi kalau digunakan untuk program peningkatan kompetensi masih dianjurkan. Mengapa tidak dianjurkan, alasannya adalah karena unsur subjektivitas yang sangat tinggi dalam menilai portofolio, variasi dalam hal isi dan bentuk dari portofolio itu sendiri dan juga sampai sekarang, tidak ada satu  kesepakatan tentang apa yang seharusnya diketahui oleh guru dan apa yang harus dapat dilakukan sebagai guru atau pendidik.
 
Umumnya dalam kegiatan pendidikan, yang banyak menggunakan portofolio guru ádalah seperti, pendidikan calon guru (preservice). Penggunaan portafolio tersebut untuk menambah bahan refleksi dan menyediakan bahan-bahan yang menggambarkan perkembangan guru tersebut. Portofolio biasanya menyediakan bahan untuk mengukur hal-hal yang ada kaitannya di antara pilihan guru tersebut atau tindakannnya dan outcome mereka dapatkan setelah menempuh pendidikan.  Sebagai tambahan, calon guru biasanya diminta untuk melengkapi portofolio, yang isinya meliputi hal-hal penting selama mengikuti pendidikan guru, pengalaman selama mengikuti pendidikan guru maupun setelah menjadi guru. Biasanya portofolio tersebut dimaksudkan untuk memberikan wawasan (konteks) yang luas atau untuk melihat pengalaman mengajar dari berbagai segi sudut pandang.
 
 
 
 
BAGAIMANA MENILAI PORTOFOLIO GURU?
 
Portofolio yang akan  dipergunakan sebagai alat untuk membuat keputusan yang berkaitan dengan  personil cenderung menjadi “penilaian” (a higher level of scrutiny) tingkat tinggi dan apabila dilakukan secara professional akan sangat bermanfaat. Penilaian ini sangat penting, sebagai konsekuensinya penggunaan portofolio sebagai alat pengambil keputusan untuk personil tertentu akan sangat riskan karena kemungkinan portofolio yang sama apabila dinilai oleh dua orang atau lebih bisa saja hasilnya berbeda. 
 
Dilihat dari rangkaian pembuatan portofolio itu sendiri, proses pembuatannya menunjukkan, bahwa portofolio adalah sesuatu yang sangat unik, sangat pribadi dan dirajut berkaitan dengan individu yang membuatnya. Sebagai alat untuk mebantu pengembangan profesionalisme, portofolio dalam arti yang positif; sebagai alat bantu dalam proses pengambilan keputusan untuk sampai pada keputusan tentang seseorang atau pribadi tertentu, di mana tim penilai biasanya mencoba melihat, mebandingkan individu tersebut dari berbagai sudut pandang (biasanya dilihat dari beberapa aspek yang berbeda) sesuai dengan permintaan. Kelemahan portofolio adalah tidak ada suatu standar yang baku dan itu yang menjadi persoalan utama dalam penggunaan portofolio guru. Kekurangan lainnya adalah selain tidak adanya standar sebagai acuan yang baku, portofolio membutuhkan acuan dalam pembuatannya atau kesepakatan tentang isi serta bentuknya. Kedua, hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan portofolio adalah subjektivitas dalam mengevaluasi isi portofolio guru tersebut. Dalam berbagai hal evaluasi terhadap kompetensi guru memang selalu subjektif. Pertanyaan yang sering muncul dalam hal ini, bagaimana agar penilaian terhadap portofolio itu tidak subjektif? Atau bagaimana agar penilaian portofolio itu memiliki reliabilitas dan validitas yang memadai? Sering juga terjadi, langkah yang diambil untuk mengatasi kekurangan dalam hal validitas dan reliabilitas penilaian portofolio adalah membuat atau menggunakan bentuk skla Likert sebagai acuan dalam menentukan kualitas, berdasarkan apa yang tercantum dalam item tertentu. Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana mengelompokkan isi portofolio ke dalam satu kategori, misalnya saja Rencana pembelajaran, kursus manajemen yang diikuti masuk ke mana dan berapa bobotnya, kemudian juga ada kesulitan dalam membuat peringkatnya, baik peringkat per aspek atau kategori maupun peringkat secara keseluruhan.
 
Langkah-langkah Menerapkan Portofolio
 
1.    Mulai perlahan-lahan, penggunaan portofolio harus disosialisasikan secara cermat, baik mengenai pembuatan isi, bentuk dan penggunaannya. Barangkali membutuhkan waktu 1 tahun untuk mencoba menggunakan portofolio sebagai alat ukur. Dalam hal portofolio digunakan sebagai alat untuk mensertifikasi guru di Indonesia, juga membutuhkanpersiapan, sosialisasi terutama kepada guru yang hendak disertifikasi tersebut. Perlu dibuat rambu-rambu yang jelas tentang isi, bentuk dan penilaian yang dilakukan terhadap portofolio tersebut.
 
2.    Keberterimaan portofolio oleh masyarakat pengguna, sejauh mana penggunaan portofolio untuk sertifikasi guru dapat diterima oleh guru itu sendiri. Dalam beberapa hal pembuatan portofolio bisa membutuhkan biaya, misalnya kalau guru diminta untuk melampirkan rekaman video pembelajaran, selain tidak semua bisa membuat rekaman yang baik berarti membutuhkan orang lain untuk melakukan itu sehingga harus membayar pembuatan tersebut. Begitu juga tim penilai harus memiliki keterampilan dalam menilai portofolio, kalau tidak guruakan mengklaim atau protes terhadap nilai yang diperoleh tersebut. Jadi kedua belah pihak harus menerima penggunaan portofolio sebagai alat untuk mensertifikasi kompetensi guru. Selain guru dan penilai, pengguna hasil penilaian portofolio juga harus menerima, misalnya Departemen Pendidikan Nasional sebagai stakeholder.
 
3.    Guru harus dilibatkan dalam pengambilan keputusan penggunaan portofoliosebagai alat atau instrument dalam mensertifikasi mereka. Jangan sampai guru tidak tahu apa dan bagaimana mereka harusmenyiapkan informasi yang diperlukan dalam portofolio tersebut. Sedapat mungkin harus sudah jelas peringkat nilai setiap aspek dan bobotnya. Guru harus merasa nyaman dan terbiasa dalam mengikuti proses sertifikasi dengan  membuat portofolio sebagai instrumennya, jangan sampai merasa asing dengan pembuatannya.  
 
4.    Komunikasi sangat penting, misalnya seorang guru ikut serta program sertifikasi, seandainya yang bersangkutan tidak berhasil maka guru tersebut berhak mendapatkan keterangan mengapatidak berhasil dan kalau berhasil juga berhak mendapatkan nilai yang diperoleh dari setiap aspek yang dinilai dalam portofolio tersebut. Komunikasi di antara tim penilai dan guru harus terjalin dengan baik. Guru harus tahu persis, secara eksplisit bagaimana portafolio itu dinilai atau digunakan dan cara-cara memberikan skor terhadap setiap aspek yang dinilai serta robot setiap aspek. Untuk itu sebelum membuat portafolio sebagai alat untuk mensertifikasi guru, seharusnya hal itu sudah dijelaskan kepada guru.
 
5.    Model penilaian portofolio perlu dibuat dan diberikan lepada guru sebelum guru tersebut diminta membuat portofolio mereka telah melihat, mempelajari model portafolio yang ideal sebagai model. Dengan adanya model tersebut akan semakin mudah bagi guru dalam mempersiapkan portofolio  atau digunakan sebagai contoh dalam membuat portofolio yang sesungguhnya.
 
6.    Isi portofolio harus betul-betul selektif, jangan sampai semua yang dikerjakan oleh guru dimasukkan ke dalamnya, tetapi memuat hal-hal yang betul-betul menggambarkan kapabilitas dan prestasi yang dicapai. 
 
7.    Harus realistis, portofolio hanya satu bentuk, format  atau model penilaian. Oleh sebab itu portafolio seharusnya hanya digunakan sebagai proses penilaian terhadap hal-hal yang sesuai dengan keperluan tersebut.  
 
 
Portofolio untuk Sertifikasi Pendidik

Uji kompetensi pendidik dilakukan dalam bentuk penilaian portofolio. Penilaian portofolio merupakan pengakuan atas pengalaman profesional guru dalam bentuk penilaian terhadap kumpulan dokumen yang mendeskripsikan:a.    kualifikasi akademik;b.    pendidikan dan pelatihan;c.    pengalaman mengajar; d.    hasil karya perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran;e.    penilaian dari atasan dan pengawas; f.        prestasi akademik; g.    karya pengembangan profesi; danh.    keikutsertaan dalam forum ilmiah.Penilaian kinerja dilakukan secara holistik yang mencakup kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional.

Guru yang telah terpilih untuk mengikuti uji kompetensi atau untuk mendapatkan sertifikat kompetensi tersebut, diminta untuk menyiapkan portofolio yang berkaitan dengan kegiatan yang menggambarkan kompetensi guru yang bersangkutan. Portofolio tersebut dibuat dalam bentuk narasi, yang meliputi prinsip dasar pengajaran, riwayat pengajaran, pengalaman dalam melakukan peneilaian, pelatihan tentang paedagogis dan pengembangan professional dan tujuan pengajaran di masa depan. Narasi tersebut biasanya juga dapat  disertai data atau informasi pendukung yang relevan, seperti silabus yang dikembangkan, materi pengajaran, berbagai sertifikat yang dimiliki sesuai dengan pelatihan yang diikuti dan transkrip nilai yang didapatkan dari universitas atau perguruan tinggi yang meluluskan yang bersangkutan. Selain itu juga dapat dilampirkan rekomendasi tentang efektivitas pengajaran yang dilakukan oleh guru  tersebut dan penilaian dari murid terhadap pengajaran guru atau informasi penting lainnya yang dapat digunakan sebagai pendukung. 
 


%d blogger menyukai ini: